titik air di tanah
mencuci rereget yg mengerak
mengalir beriring menyiang lekuk
menggelapkan warna
namun menyuci.
Air tumpah meruah
layaknya berteriak marah
menampar wajah bumi
runcing anak panah
dosa mementah.
Air menghujan adalah sunyi
tak terdengar bisik lain
tak juga bercakap
hanya satu nyanyian
hanya satu nada terselip
damai.
detak detik detak, lewat jam duabelas
detak detik jam dinding
masih berdetik membosankan
memaksa mata menatap jarum kecil, yg berdetak
detak detik detak, lewat malam
memotong angan menjadi kisah-kisah terpenggal
berderet, berlarik menikam benak
membuat mata tak pejam enak
detik detak di ruang kotak
atap petak ubin petak
menetak tulang luluh lantak
detik berdetak di dinding tua
berbincang denganku, habiskan masa.
adalah likuliku
di antara senyum bias
melata di tiap-tiap wajah
tak terhitung, tak terbilang
sepanjang waktu yang semakin buram
lelah yang terengah
di helai nafasnafas
keringat menetes, habis sudah
airmata menetes, habis sudah
darah menetes, habis sudah
hati yang lelah, hari yang lelah
menunggu waktu, merenung kisah
menunggu waktu, di puncak resah
tak ada yang tahu ujung cerita
seperti menebak banyaknya udara
adalah likuliku pilu
di antara tangis yang tak kunjung habis
seakan ingin menguras pedih di luruh airmata
jatuh ke bumi, terbawa nestapa nelangsa
merayap di tanah lemah dan tak kunjung hilang
entah sampai kapan, entah
tersebutlah misteri, terserak di muka bumi
kisah laskar yang memenuhi seluruh tanah
dengan mulut menggumam selaksa sumpah
ini bukan hanya antara surga dan neraka
bukan pula antara dosa dan pahala
ini juga adalah cerita tentang peluh yang menetes
bersetubuh air mata, dan menyentuh lemah
otak yang tak sempat berpikir
hati yang tak sempat merasa
raga yang tak sempat rebah, sejenak
:dan masih tersebut cerita tentang hari-hari matahari
tentang tuhan yang tak lagi satu
atau tentang kabar menghilangnya Tuhan
lebih baik tak ada Ramadhan
bila gajian menjadi tak lagi cukup untuk sebulan
lebih baik tak ada Ramadhan
bila tiba-tiba muncul orang-orang alim dadakan
lebih baik tak ada Ramadhan
bila terawih menjadi ajang jor-joran
lebih baik tak ada Ramadhan
bila hampir setiap hari ada razia warung makan
lebih baik tak ada Ramadhan
bila harga bahan pokok naik gila-gilaan
lebih baik tak ada Ramadhan
bila tiba-tiba ada sekelompok orang berlaku bak malaikat Tuhan
lebih baik tak ada Ramadhan
bila banyak orang tua pening karena anak merengek minta baju lebaran
lebih baik tak ada Ramadhan
bila relijius hanya tampak di iklan-iklan
lebih baik tak ada Ramadhan!
ada repihanmu di kediaman
setiap titik setiap sunyi
setiap detik yang berlalu
semua utuh masih tentangmu
ada sketsamu di lamunan
setiap keping setiap serpih
setiap garis yang tergores
semua utuh masih tentangmu
ada sepi yang tak sepi
ketika semua tentang dirimu
ada sunyi yang tak sunyi
ketika semua tentang dirimu
dan bersama kediaman,
aku selalu melukiskan goresan tentangmu.
kami adalah pengembara,
yang singgah pada suatu hari, di suatu tempat di bumi,
menangis tertawa di sepanjang putaran jagad,
menunggu waktu yang tak pernah tertulis di buku.
sesungguhnya, kami hanyalah pengembara,
yang menyusur jalan di setiap aliran nadi,
mengikuti arah angin penuntun nafas,
dan akan selalu menghelanya sampai udara habis.
tautan hujan dan matahari yang telah mempertemukan kami.
menyatukan warna-warna yang kami pikirkan di setiap bincang.
barangkali jingga di timur dan jingga di barat,
turut memberikan warna untuk kami torehkan.
barangkali kelap-kelip bintang di langit malam,
ikut menghias senyum di tiap perjumpaan.
barangkali kesah angin yang mendesah,
membisikkan kata-kata yang menghilang saat pertemuan.
barangkali, tetes hujan adalah tempat semayam rindu kami.
dan mata kami tak bisa berpaling satu sama lain.
dan jemari kami berpadu, mengeja sentuhan-sentuhan.
dan hati bersatu, mencipta rasa, hanya kami yang tahu.
berbincang dalam diam, saling genggam,
melukis tangis dan tawa di sepanjang perjalanan.
menerka-nerka cerita di ujung langkah.
kini kami telah berjanji, untuk tak menapak jejak dalam sendiri.
berbagi setiap letik kisah, dan mengukirnya pada setiap pori.
sesungguhnya nama kami adalah satu, telah ditulis itu pada langit.
jauh sebelum tercipta cerita tentang bumi.
—————————————————————–
: buat Brader KK dan inisial W yang akan menikah.
aku pamit,
kini hatiku akan pergi
jauh, terlalu jauh untuk menempuh jalan kembali
mungkin dia akan merasa sepi
pasti dia akan sendiri
tapi tak apa.
aku pamit,
mungkin memang kita harus berpisah.
maaf…
jingga sore telah memekat, kekasih
menjadi temanku menunggu.
menunggu waktu,
menanti kau akan jual nyawaku.
berdoa saja,
andaikan, pada saat itu
masih utuh dia, tak terberai.
:semili demi semili
kelupas muka terkuliti
hingga tak ada lagi tempat
buat sekedar menulis setitik sipu.
:merepih hati terserpih
membuat tanya,
adakah bidang buat melukis
walau hanya segaris cinta di sana?
pekat malam mulai mencekat, kekasih
menjadi kerai di setiap angan.
ah, bila saja bisa kusembunyi di sana,
sambil menyemai luka yang kini telah menjadi nyawa.
tahukah?
saat ini, aku tak lagi perlu
berteriak pada setan, untuk bisa berbincang
cukup bisikan.
itupun rasanya sudah terlalu nyaring.
tahukah kau, mengapa?
karena aku telah di neraka!
ribuan putaran hari
angin yang bengis, hujan yang gusar
mendung terkoyak, meneteskan luhnya
serenade perih di kepungan sepi
menelikung kata-kata
bumi menangis, tergenang airmata
dan aku di situ.
dan aku.
dan kuldesak.
:kuldesak
sepanjang jalan, basah
mendung yg menggantung,
dedaun pohon kuyup ditikam, hujan
dan ditemani kuldesak.
jemari hujan membelai, mata
airmata yg bersetubuh rinai,
menggigilkan hati.
aku rindu, aku rindu.
dan dicumbui kuldesak.
dingin angin menyungkup pori,
menampar aku yg tak sadar,
terambing di galau berantah,
merambah roh dan raga
dan aku, kuldesak.