kami adalah pengembara,
yang singgah pada suatu hari, di suatu tempat di bumi,
menangis tertawa di sepanjang putaran jagad,
menunggu waktu yang tak pernah tertulis di buku.
sesungguhnya, kami hanyalah pengembara,
yang menyusur jalan di setiap aliran nadi,
mengikuti arah angin penuntun nafas,
dan akan selalu menghelanya sampai udara habis.
tautan hujan dan matahari yang telah mempertemukan kami.
menyatukan warna-warna yang kami pikirkan di setiap bincang.
barangkali jingga di timur dan jingga di barat,
turut memberikan warna untuk kami torehkan.
barangkali kelap-kelip bintang di langit malam,
ikut menghias senyum di tiap perjumpaan.
barangkali kesah angin yang mendesah,
membisikkan kata-kata yang menghilang saat pertemuan.
barangkali, tetes hujan adalah tempat semayam rindu kami.
dan mata kami tak bisa berpaling satu sama lain.
dan jemari kami berpadu, mengeja sentuhan-sentuhan.
dan hati bersatu, mencipta rasa, hanya kami yang tahu.
berbincang dalam diam, saling genggam,
melukis tangis dan tawa di sepanjang perjalanan.
menerka-nerka cerita di ujung langkah.
kini kami telah berjanji, untuk tak menapak jejak dalam sendiri.
berbagi setiap letik kisah, dan mengukirnya pada setiap pori.
sesungguhnya nama kami adalah satu, telah ditulis itu pada langit.
jauh sebelum tercipta cerita tentang bumi.
—————————————————————–
: buat Brader KK dan inisial W yang akan menikah.
aku pamit,
kini hatiku akan pergi
jauh, terlalu jauh untuk menempuh jalan kembali
mungkin dia akan merasa sepi
pasti dia akan sendiri
tapi tak apa.
aku pamit,
mungkin memang kita harus berpisah.
maaf…
jingga sore telah memekat, kekasih
menjadi temanku menunggu.
menunggu waktu,
menanti kau akan jual nyawaku.
berdoa saja,
andaikan, pada saat itu
masih utuh dia, tak terberai.
:semili demi semili
kelupas muka terkuliti
hingga tak ada lagi tempat
buat sekedar menulis setitik sipu.
:merepih hati terserpih
membuat tanya,
adakah bidang buat melukis
walau hanya segaris cinta di sana?
pekat malam mulai mencekat, kekasih
menjadi kerai di setiap angan.
ah, bila saja bisa kusembunyi di sana,
sambil menyemai luka yang kini telah menjadi nyawa.
tahukah?
saat ini, aku tak lagi perlu
berteriak pada setan, untuk bisa berbincang
cukup bisikan.
itupun rasanya sudah terlalu nyaring.
tahukah kau, mengapa?
karena aku telah di neraka!
ribuan putaran hari
angin yang bengis, hujan yang gusar
mendung terkoyak, meneteskan luhnya
serenade perih di kepungan sepi
menelikung kata-kata
bumi menangis, tergenang airmata
dan aku di situ.
dan aku.
dan kuldesak.
:kuldesak
sepanjang jalan, basah
mendung yg menggantung,
dedaun pohon kuyup ditikam, hujan
dan ditemani kuldesak.
jemari hujan membelai, mata
airmata yg bersetubuh rinai,
menggigilkan hati.
aku rindu, aku rindu.
dan dicumbui kuldesak.
dingin angin menyungkup pori,
menampar aku yg tak sadar,
terambing di galau berantah,
merambah roh dan raga
dan aku, kuldesak.
kucari teduh di terik hari
kucari hujan di ganas kemarau
kucari embun di angin kering
kucari damai di tengah amarah
kucari tenang di hiruk keramaian
kucari surga di kepungan neraka
walau itu hanya setitik.
walau itu hanya setitik.
walau itu hanya setitik.
masih hujan
masih mendung
titiktitik air menyusur
menyusur alur di tanah lengkung
berkejaran bergegas pergi
masih mendung
masih gelap
awanawan memayung
menutup matahari, tutup rembulan
tak jelas siang atau malam
bergelut dengan dunia sungguh melelahkan
andai boleh memilih
lebih baik bersembunyi di alam ruh
melarut dalam drama sungguh melelahkan
seperti topeng yang selalu terpakai
menyekat wajah, pengap
dan percayalah, hati aus karenanya
tak bisa merasa, mati rasa
entah telah masuk babak berapa
entah telah ikut episode apa
hanya menyusur alur di setiap telikung
entah, semacam menikmati sajak-sajak membosankan.
hujan telah meninggalkan rohnya
dingin, basah udara yg menerpa
menyingkap angan yg tersimpan
lalu lalang, pamer gambar di balik kepala
hujan telah melepas rohnya
menyesap di tanah, menggelap di sana
dan sepertinya telah tersusun cerita
di tiap tetes yg terdampar, di dahan basah
ada rinai yg tertinggal
ada mimpi yg terpenggal
di tengah jeda hujan
nurani koyak
peluh membasah
benak, meretak
dan matahari menapak jejaknya
dan semesta telah menunjukkan jalan
dan aku telah sesat.
terima kasih, Gusti!
kapan aku pulang?
aku lelah berpetualang.
lelah terengah,
dan udara menghampa.
penat kurambah pucuk duri,
ujung ilalang.
menentang angin yang begitu kuat menampar.
meremukkan tulang-tulang tengkorak,
merepihkan belulang dan kulitku.
kapan aku pulang?
aku lelah berjalan.
tapi, waktu masih terus menyeretku.
gerah.
ingin menggusah ampiran setiap resah
yang terungkat setiap kali.
gelisah.
baiknya meninggalkan kesah-kesah itu
di padang entah
atau menguburnya jauh,
sangat jauh di dalam lemah
dan melupakannya.
tak usah ada nisan.
biarkan dia melebur bersama tanah.
mungkin pada saatnya akan menguap
bersama matahari yang biksah
yang akan memanaskannya
hingga merepih setitik sari
dan tak lagi menyesak bila terhirup.