Kamis, jam lima sore lebih sekian menit sekian detik
tuhan sepertinya enggan berada pada secangkir kopi, berbatang rokok, apalagi pada berderet kode biner yang membentuk entah apa di layar di depan mata.
dan aku? rindu berjumpa setan yang selalu diutusNya.
[Wong Goenoeng - Negri Mbako - in god we trust]
jam sepuluh, hari senin.
tuhan lebih mungkin menjelma pada segelas kopi, segelas teh, sebatang rokok atau bahkan sebutir kacang atom.
sebab, kecil kemungkinannya bila dia berada di berkas-berkas yang tersebar di atas meja atau di balik kepala.
dan setan? entahlah. biarkan saja dia dengan liburannya.
[Wong Goenoeng - Tlatah Tengah - 3.6.13.1000]
Tuhan sangat laku pada hari Senin.
Dia ada di hampir setiap pikiran manusia yang berkata “I hate Monday” atau yang berpikir “aha, Senin!”,
seperti halnya saat menjadi komoditi di layar televisi dan segala media pada hari Jumat.
[Wong Goenoeng - Tlatah Tengah - 3.6.13]
pada hari libur, seringkali Tuhan dimaki.
saat hujan turun, bahkan saat ada matahari.
[Wong Goenoeng - Tlatah Tengah - 2.6.13]
Tuhan tak pernah berulang tahun.
Dia hanya menitipkan waktu,
lalu, manusia-manusia yang menjadikannya titik.
[Wong Goenoeng - Tlatah Tengah - 01.06.23.59]
siang tak selalu cerita tentang matahari
juga tak selalu tentang penantian perut akan sepiring nasi
tak juga tentang riuhnya tumpang tindih berjuta-juta mimpi
yang berseliweran di jalan, koran, layar gadget dan televisi
siang, tampaknya lebih akrab dengan sumpah serapah dan caci maki
tentang cerita tunggang langgangnya manusia menyiasati hari
tentang pengapnya udara panas yang terperangkap di hati
tentang penatnya isi kepala yang terasa sampai ke ujung nadi
juga tentang cerita orang-orang yang berdoa, berharap cepat mati.
[Wong Goenoeng - Tlatah Tengah - 03042013]
pernahkah engkau tahu, Dik?
bahwa aku selalu rindu pagi yang sepi,
hanya hening, semilir angin dan wangi kembang kamboja melati,
lalu daun luruh dan embun yang menanti hari,
dan selalu ada senyummu di tiap detik yang terbawa mentari.
pernahkah engkau tahu, Dik?
rinduku sepi.
[Wong Goenoeng - Tlatah Tengah 190313 - masih ada rindu tentang melati]
kadang rumah adalah bukan tempat pulang,
dia hanya petak-petak bidang,
ketika tanpa ada senyum di teras,
saat kau lelah dan kau datang.
[Wong Goenoeng - Tlatah Tengah - 6 maret 2013]
pagi adalah sisa semedi malam tadi
ketika bulan beradu bumi di satu sisi.
meninggalkan kerinduan pada pokok mimpi
dan bias di bias matahari.
pagi adalah sepah mimpi malam tadi
yang enggan lenyap seiring embun menyepi.
masih tentang rinduku pada sulur melati
yang kini berada di entah atau bahkan mati.
:padahal, telah kutitipkan mimpi-mimpiku di situ.
[Wong Goenoeng - Tlatah Tengah - 30 Pebruari 2013]
Kau tahu?
saat ada butiran lembut air menyapa wajah,
saat dingin tetes air tersapu angin yang liris,
saat kulihat air yang riuh menyusur tanah,
aku rindu, pada sulur-sulur melati yang tersapa hujan, dan menari.
:padahal ada mimpi-mimpiku di situ.
[Wong Goenoeng - Tlatah Tengah 28213 ]