Friday, 31 October, 2008
malam liris
jendela bulan menampak
membawa bayangan jatuh ke benak
bertegur lirih dengan masa
saat dia melewati kisi hati
membawa sejuta syair yang mesti diurai
tepekur,
meninabobokkan diri
menikmati nyanyian bumi
yang mengalun bersepi
kidung terusik dalam sunyi
tak berirama,
karena dirinya membuat lupa makna
tak meminta,
karena dirinya membuat lupa cinta
tempatkan diri di titik nadir
bersimpuh tanpa daya
tanpa segala
tanpa kata
Friday, 31 October, 2008
manusia menciptakan kotak
bukan Tuhan
manusia menciptakan jarak
bukan Tuhan
Tuhan menciptakan manusia
bukan untuk dipetakkan
Thursday, 30 October, 2008
titik air tidak ke tanah
titik air dia terdiam
menggenang di pelupuk mata
sampai waktunya dia tertumpah
dingin tidak bertiup
dingin dia terdiam
mengendap di hati
sampai waktunya dia terbuncah
waktu tidak berjalan
waktu dia terdiam
memeluk keengganan
sampai waktunya dia tersadar
hati tidak menyimpan rasa
hati dia terdiam
menganyam hampa
sampai waktunya dia meronta
:
makna hanyalah kumpulan cerita
yang bersatu dari ketiadaan
Wednesday, 29 October, 2008
maafkan
aku tak dapat memberimu
puisi di atas bantal
atau kecupan kecil
untuk membangunkanmu dari mimpi
pun satu pelukan
hangatkan hatimu dari dinginnya sunyi
saat bulan mulai bersembunyi di ufuk pagi
maafkan
bila hanya larik kata ini
yang bisa menemuimu
sekedar kau tahu
dirimu, buatku adalah nadi
Tuesday, 28 October, 2008
tengah hari
waktu menikmati hidup
sebait kopi dan selarik asap
di beranda belakang
di suatu tempat
:bukan di bumi
Sunday, 26 October, 2008
madah telah kupujikan, kasih
mengapa engkau masih tampak luyu ?
telah kutembangkan asmarandana setiap waktu
apakah itu tidak cukup untukmu ?
mengapa masih bertanya
apakah aku cinta sejatimu ?
apakah cinta harus dibekap ?
ataukah juga mesti diucap ?
biarlah dia merdeka
mengungkap apa yang perlu dirasa
mewarna seperti yang dia suka
cinta sejati tak cukup di ujung waktu, kasih
dia ada di setiap napas dan setelahnya
dan tak akan pernah mengakui
bahwa dia adalah cinta
Saturday, 25 October, 2008
konon ada sajak-sajak di hutan
yang telah lama berdiri di sana
bahkan sebelum aku dibuat
bergerombol bersama sanak saudaranya
sajak-sajak di hutan membawa keteduhan
mencipta sipongang di sela keheningan
suatu hari dia mendengar bahwa
saudaranya telah banyak pindah ke kota
naik kapal menyeberang samudra
menjadi meja kursi dan sofa
ada yang menjadi karyawan kantor
ada yang menjadi pegawai hotel
ada yang nongkrong di gedongan
konon sajak-sajak di hutan
tergiur oleh bujukan para juragan
untuk melakukan exodus besar-besaran
menyusul saudara mereka yang telah lama pindah
menyandang gelar warga metropolitan
sajak-sajak di hutan lupa diri
mereka telah lupa akan janji
kepada tanah yang telah menyuapi
sajak-sajak mulai pergi
hingga sajak di hutan pun tak ada lagi
Friday, 24 October, 2008
apakah aku harus membuat
puisi tentang malam ?
ataukah aku akan membuat
puisi tentang sepi ?
tidak
karena meraka telah menjadikanku
sebuah puisi
Thursday, 23 October, 2008
aku terbangun di puncak waktu
menemani suara yang tak terdengar
menyambangi angin yang kesepian
yang menggigil di relung kamar
menyapa alas sujudku yang mulai kumuh
kurasakan tetesan embun yang liris
melambai di balik jendela yang temaram
ingin mendekap
menuntaskan rindu
yang sempat terhenti beberapa waktu
di balik khayal yang sempat terlintas
ingin memeluk
yang memungkinkan aku memiliki utuh
tak ada siapapun
hanya loh mahfuz yang menjadi saksi
ingin bersimpuh
di emperan arasy
meminum basuhan kaki
memuaskan dahagaku akan-Mu
aku terbangun di puncak waktu
menunggu tetesan embun yang Kau kirim padaku
[thanks to : Elys Welt ]
Saturday, 18 October, 2008
belum kumainkan tarian suci itu, hari ini
masih menunggu sang pengusik hati
itu membuatku terpaku dalam penantian
berharap dia datang lebih awal dan lebih sering
agar dapat kurapatkan
….cinta
….kasih
pada ciumanku
kuhabiskan penantian
menyanyikan lagu langit dan lagu bumi
mainkan dawai, mencegat mimpi
yang mungkin akan mengganggu
kekhusyukanku untuk mencumbu
hamparan alas rebah, juga arah jiwaku
belum juga kumainkan tarian suci, hari ini
masih setia aku dengan penantian
yang semoga tak abadi
wahai,
ijinkanlah aku untuk memamerkan warna-warna
yang belum sempat kutorehkan
di atas kanvas yang telah penuh dengan coretan
yang telah kugambar dengan yang kesekian
belum kumainkan tarian itu
karena hening masih bersamaku
…….