Archive for November, 2008

saat penyair kehilangan kata

Sunday, 30 November, 2008

biasanya
mengalirlah kata-kata lewat nadiku
entah kenapa, tiba-tiba tersendat

biasanya
larik kata terhembus oleh nafasku
entah kenapa, tiba-tiba menyesak

biasanya
aku menyatu dengan sajakku
entah kenapa, tiba-tiba dia menalak

biasanya
malam dan hujan bercakap denganku
entah kenapa, tiba-tiba bersapa saja mereka enggan

biasanya
tetes embun merajuk padaku
dan liris anginpun menjadi puisi

entahlah,
mungkin ada saat penyair kehilangan kata
ataukah dia kehilangan rasa ?
ah, aku akan berdoa menunggu jeda

balada burung emprit dan lubuk kering

Sunday, 30 November, 2008

gerangan apa yang disampaikan burung emprit itu ?
sehelai rumput ada di cucuknya
bertulis kabar tentang kekeringan
di lubuk di hutan seberang

oo bukan, itu bukan lagi lubuk
kini lubuk itu telah beraspal
yang tersisa hanya rumput kering
dan enceng gondok garing dipinggir
yang menjadi nyanyian duka
bagi ikan dan temannya

oo bukan, itu bukan lagi hutan
kini hutan itu telah menjadi lapangan
yang bisa meramaikan
untuk bermain 200 kesebelasan
atau bila ada yang berminat
untuk tempat upacara bendera orang sekota

menurut berita
di sana akan di bangun rumah pustaka
yang lengkap berisi sejarah pohon dan binatangnya

buat Kin di kedamaian…

Thursday, 27 November, 2008

Dear Kin,

Dedaunan layu berjatuhan, ketika aku menulis ini Kin.
Rinduku mungkin telah mencapai puncak.
Ingin aku bertemu dengan kamu, seperti dulu.
Tapi aku sadar kita tak akan bisa ketemu.
Kadang aku terbangun tengah malam,
hanya untuk melihat ke luar jendela,
mencarimu diantara bintang yang ada di langit,
sambil berharap kamu di sana.
Tapi selalu aku mendesah kecewa,
aku tak berhasil menemukanmu di sana.

Mungkinkah kamu melihatku Kin ?
Kesendirianku menjalani hari-hari yang terlewat,
seolah membuatku semakin rapuh.
Seingatku, selama ini hanya kamu yang bisa membuat hari-hariku berwarna.

Kin,
Aku selalu berharap kamu ada di sini,
menemaniku duduk-duduk di taman itu,
seperti dulu.
Atau kita berjalan-jalan seolah kita tak punya lelah.
Atau kadang juga kita cuma bengong berdua.
Kita ngobrol tentang semua, tentang aku, tentang kamu,
tentang kita, tentang apa saja.
Kadang kita marahan, tapi cuma sebentar.
Dulu kamu pernah bilang, tak ada gunanya hari-hari kita,
kita isi dengan saling marahan.
Aku ingat, kamu yang selalu berusaha mengalah.
Terima kasih Kin, kamu begitu baik selalu mengalah untukku.
Sorry, aku sering membuatmu jengkel.
Maaf ya, sayang….

Kalau ingat itu Kin, aku jadi tambah kangen padamu,
ingin aku memelukmu,  minta maaf padamu,
dan janji, untuk selalu menjagamu.
Mungkin juga aku ingin mencium pipimu, sedikiiitt.. saja.
Tapi Kin, itu cuma harapan.
Kamu tak ada di sini.
Tak akan ke sini.
Kerinduanku semakin dalam Kin.

Kin sayang,
Kamu ingat ketika pertama aku menciummu di taman ?
Kamu tahu betapa bahagianya aku waktu itu.
Membuatku merasa semakin cinta kamu.
Aku tahu waktu itu tanganmu juga dingin, sama seperti tanganku.
Hehe, ciuman pertama kita.
Habis itu kamu menunduk malu.
Kemudian kita berdua hanya diam, bahagia, tangan kita saling berpegangan,
melihat kunang-kunang yang berusaha menyaingi sinar bintang.
Bahagia.
Masih kuingat, sepi sekali waktu itu,
hanya sesekali terdengar suara serangga malam.
Kita juga terus diam, hanya sesekali berpandangan
dan kemudian saling senyum.
Hanya nafas kita mengiringi berlalunya waktu.

Kin yang baik yang selalu aku sayangi,
Saat ini entah sudah detik keberapa
(aku sendiri tak tahu),
berlalunya waktu tanpa kehadiranmu.
Setiap detik yang begitu berarti, ketika kita sedang berdua.
Seolah-olah esok tak ada waktu lagi untuk kita.

Tapi detik-detik ini aku hanya sendiri, Kin.
Hampa rasanya.
Apakah kamu juga merasa begitu ?

Kin,
Hariku bermain sendiri, tak ada suara kamu yang menemaniku bernyanyi.
Mungkin Si Aprodite, terlalu manjur mantranya ya Kin ?
Mungkin juga Si Cupid yang ikut campur ngasih mantra,
tapi memang rasa sayangku, rasa cintaku padamu,
sampai sekarang masih seperti dulu.
Hanya, kalau dulu begitu kangen kamu ada.
Sekarang mau kemana kalau aku kangen kamu, Kin ?
Aku hanya bisa menatap ke langit,
sambil sesekali berharap kamu ada di sana,
kemudian datang ke tempatku,
biar bisa kupandang kamu sampai kamu bosan.

Kin sayang,
Ku harap kau tersenyum di sana, di sisiNya, memandangku di sini.
Katamu dulu kamu bahagia kalau aku bahagia.
Aku akan bahagia Kin, selalu mendoakanmu di sini.
Aku akan selalu tersenyum buatmu Kin, Kin sayang.
Biarlah semua kenangan indah tentangmu akan selalu menemaniku, di sini.
Hari-hari yang kita lalui akan kujadikan lukisan di hatiku.
Hatimu, sayangmu padaku, cintamu.
aku tahu sampai saat terakhir hidupmu tidak berubah padaku.
Terima kasih Kin, kamu membuat hidupku berarti.

Tuhan,
kutitipkan Kin padaMu.
[ edited : today ]

apa kabar negeriku ?

Thursday, 27 November, 2008

ada perdebatan
tentang nasib yang jadi taruhan
tentang sejumlah mulut yang butuh makan
tentang otak yang butuh isian

ada pora di ruang mulia
tentang belum penuhnya bejana harta
tentang orang-orang tak bernama
tentang amanat yang terabaikan

ada yang belum selesai
tentang ilmu yang bergelimpang
tentang keadilan yang bergoyang
tentang rebutan kuasa orang-orang

apa  kabar negeriku ?
hari ini tambah lagi kemelutmu !

bumiku, porak poranda

Tuesday, 25 November, 2008

bumiku gempita porak poranda
diinjak-injak dajal-dajal kurang ajar
yang tak tahu adat, tak tahu tata krama
tanah basah oleh darah-darah, dosa dan sebangsanya
kuberteriak lantang dengan tangan terkepal, teracung
tak ada yang mendengarku, melihatku
wajah wajah tanpa wajah tanpa hati malah mendekatiku
sambil menodongkan pistol dan golok dan aturannya
tanganku terborgol, ku tak bisa bersuara
wajah wajah tanpa wajah memandangku bergidik
mataku masih menyiratkan teriakan
jantungku masih utuh berdenyut

bumiku terserak tak berirama
dicorat-coret ribuan pena hina dina
yang menuliskan jutaan kata tak bermakna namun berharga
laut bergolak jijik, tanah gonjang-ganjing
anjing-anjing pencari harta berfoya
ditengah bangkai-bangkai yang berserak
bangkai pohon bangkai minyak bangkai, bangkai, bangkai
aku muntah ditengah-tengah kepenatanku
muntahan yang sangat menjijikkan
anjing-anjing berpaling kepadaku
menawar menukar muntahan itu dengan segenggam kuasa
aku menggeleng dan mengangguk
aku mengangguk dengan gelengan

langitku hitam kelam
membawa hujan sisa asap kedengkian
yang kemarin dibakar dengan nafsu
kini hujan itu telah jatuh membasahi tanah bumiku
dengan warnanya yang membuatku muak
masih tercetak di situ segala munafik dan angkara murka
masih tercetak itu, dengan begitu lekat

[buat : para perusak...]

pagi dan hujan

Monday, 24 November, 2008

pagi dan hujan
bukan suatu jalinan yang kuinginkan
saat melihat romansa di pinggir jalan
sepasang kekasih berpeluk berpayung
dengan sesungging senyuman

pagi dan hujan
menyembunyikan kehangatan
yang dinanti rumput dan tanah yang kedinginan
atau juga pejalan di sepanjang trotoar
saat kulihat harap singgah
di sosok tua di pinggir jembatan

pagi dan hujan
mendekap dalam keramaian celoteh
saat bersapa dengan aspal jalanan
teringat cerita tentang perigi
yang kembali terisi

pagi dan hujan
terus memeluk sepanjang jalan
menghangatkan hatiku dengan ulahnya

di tepian hari

Thursday, 20 November, 2008

aku duduk, merenung
di salah satu anak tangga
yang terlindung kubah
dan itu di terasnya

di bawah kesunyian
bersedekap menunggu
membiarkan air mata jatuh menjadi manik pasir
sebuah tempat telah kusiapkan
untuk menulis pesan yang kutunggu

dan kesunyianpun masih
terus bergulir menghabiskan waktunya
menggodaku untuk selalu berpaling
dan meninggalkan kesetiaanku

berlutut menanti kepastian
menunggu di tepian hari
menanti tetesan embun berikutnya
berharap masuk ke serambi arasy

siapakah yang dapat menjawabku ?

saat ratapan menjadikanku seorang pecundang
yang mesti bersikeras menahan kesetiaannya
(yang mungkin akan menjadi kesiaan)
pun ketika hari bergulir pergi
naungan kubah itu masih kurindukan

aku menunduk, berlutut, bersimpuh masih
dan lafal doapun berurut mengalir dari mulutku, hatiku
menghabiskan airmata
membasahi alas sujudku

tepian malam meninggalkan kenangan yang sama
dengan harapan yang sama
dengan doa yang sama
masih di atas alas yang sama
menautkan hatiku dengan kesepian
kepedihan
kerinduan
akankah jawaban itu datang ?
kesetiaanku pada sujudku
di setiap keping hati
di setiap tepian hari

pada siapakah kesedihan dilampiaskan ?
ketika langit telah menunjukkan kebosanan
bumi memalingkan muka
dan ketika tak seorangpun peduli

aku rindu matahari

Monday, 17 November, 2008

bahkan dinginpun membeku
bahkan anginpun membisu
bahkan benakpun kelu
menghitung detak detik waktu
yang lewat begitu saja
di sela kekosongan
semakin menantang kesabaran

bersirobok dengan kebisuan
membatu di pematang malam
mengusir kepenatan yang setia

dendamku pada pagi

:aku rindu matahari

cerita tentang romantisme

Monday, 17 November, 2008

siapa bilang romantisme telah mati, kekasih
buktinya seonggok puing hati telah kuserahkan padamu
menemani warna merah bunga mawar
yang juga telah berada ditanganmu

terlalu pagi untuk memutuskan semua itu
seperti juga masih terlalu dini
untuk membuang semua perasaan
yang pernah singgah menjadi mimpi indah
dalam pelukanmu pelukanku

siapa bilang romantisme telah habis, kekasih
segores warna merah masih menodai hatiku
walau telah tercemar oleh bisikan dan hasutan
tetap setia dia di sana
meninggalkan jejak kerinduan akan dirimu
dan tentang mimpi yang tiada akhir

ujung sepi

Tuesday, 11 November, 2008

merenung sampai malam
di batas angan-angan
di batas kesadaran
di ujung keluh kesah yang semakin dalam
sehelai daun kemangi bercerita
tentang setetes embun yang selalu dirindukannya
untuk menidurkan rasa haus yang selalu datang
yang kadang datang kesiangan
hanya untuk menjumpai garangnya matahari

merenung masih di batas kegalauan
di ujung tembok belokan jalan
tempat orang-orang kencing sambil berdiri
tempat anjing mengangkat kaki
berteman bau pesing yang menyengat
menunggu ilham datang
menunggu khayalan datang
sesabar penyair yang kehabisan kata
menoreh harapan yang sepertinya masih jauh di ujung benak

memandang keriuhan orang bercengkerama
mengikuti alunan nasib di nadi
terbahak seolah esok masih panjang
tak sadar bahwa Tuhan telah menurunkan kiamat-Nya
kesedihan atau kegembiraan tak ada bedanya
masih bisakah menangis saat ini ?
roh mulai melantur tak lagi mengikuti tulisan tangannya
roh meninggalkan kediaman mengikuti tarian liarnya

seseorang termenung di dekat tungku
menunggu malaikat meniup nafiri
pikirnya, mungkin lebih baik membiasakan diri dengan panas
sebelum merasakan neraka
masih sabar dia di sana, sejak tahun lalu
hanya diam, memandang api
yang menjilati tubuhnya yang semakin hitam

di ujung sepi
ada yang masih terpaku
bercakap tentang kiamat yang tak jadi datang