Monday, 29 December, 2008
apa kabar hari ini, Tuhan ?
kuharap Engkau masih tersenyum
dan menunda waktu kiamat
sekedar memberiku kesempatan
untuk berdoa lebih banyak
dan membuktikan kesungguhan
saat ini,
kabarku di bumi baik-baik saja
masih menapaki jalan dan takdir
berbekal segenggam janjiku dan janjiMu
: tertulis itu di nadi
hari ini, aku masih berdoa yang sama
semoga Kau masih mau menambahkan
dan menulis di buku nasibku, kata bahagia
dan menyisihkan sedikit ruang di rumahMu
apa kabarMu, Tuhan ?
hari ini, kumulai dengan sebatang rokok dan secangkir kopi
dan senandung di tengah pelukan kabut yang Kau kirim
dinginnya sungguh menentramkan, terima kasih
itu akan menjadi lukisan terindah sepanjang hari
menjadi kenangan di balik senyuman matahari
Wednesday, 24 December, 2008
bumi makin tua !
langit tak lagi biru merayu
pelangi semakin jarang menari
rumput hanyalah serpihan coklat kering
di samping tunggak pohon mati
di tanah tandus berdebu
mataharikah yang semakin panas ?
tampaknya semakin dekat,
atau, malah hati yang merasa terpanggang ?
sepertinya hanya pikiran manusia
yang tetap sama,
tak kunjung tua dirajam jaman
melampiaskan segala nafsu
bumi makin tua
semakin cepat berputar, mengejar waktu
yang setia menantinya di penghujung
biar tak tertinggal, episode-episode drama babak akhir
tidak seperti manusia
yang enggan menyiapkan diri
dan masih berkubang di lingkaran semu
bumi makin tua
tak terbantah !
seperti pesannya hari ini
di ujung langit yang berarak awan,
masih ada banyak lowongan
untuk menjadi barisan para pendoa
Monday, 22 December, 2008
kubebaskan mata nun kesana
kutadahkan tangan, bentang langit
kelipan bintang ataupun kelam
kuasa-MU
aku, masih memandang
titik-titik makna di beranda
tulis setiap kata dan arti
seperti ajaran para nabi
pada kutipan kitab
dan aku masih bersujud hati, di kiblat-MU
tetesan airmata, lafal doa masih setia
aku tiada
masih kucari
di tepian langit
di antara hitam
di antara bintang
biarkan malam menjadi selimut
rebahkan tubuh dan sejenak pikir
tempat tinggal mimpi-mimpiku
apakah matahari akan menjadi pelita ?
atau bulankah ?
dingin masih tetap
dalam pelukan senyapnya
seperti Ursa yang tak pernah hilang
[r]
Monday, 22 December, 2008
saat benak mulai menuntut untuk rebah
sejenak di pembaringan yang tercarut
kaki enggan untuk sekedar melangkah
terkunci rapat di dekat dipan di ujung kamar itu
benakku masih terpatri
pada kenangan-kenangan
yang aku ragu akan kembali
apakah aku harus mulai berbaring
dan menguapkan semua angan atau inginku ?
apakah aku harus mengajar kakiku
untuk mulai berjalan lagi ?
apakah mulutku harus terus
melafalkan doa yang entah kapan terjawab ?
apakah aku harus, apakah aku harus ?
kebingungan ini mengingatkanku
untuk membujuk benakku memohon
ketika mulut telah mulai pahit kehabisan ludah
dan bibir telah kering tersapu angin
aku telah lelah untuk sekedar berbaring
di kasur yang tercarut di pojok kamar itu
……….saat kakiku ingin melangkah
[r]
Friday, 19 December, 2008
menunggu tetesan embun
yang jatuh di tepi malam
di pucuk daun mangga di samping rumah
yang kuharap tak mengering
mungkinkah menunggu pelangi itu ?
seperti mengharap matahari
di kepekatan malam
sesungguhnya, telah ada sejak dulu
tentang kata-kata yang bertuah
yang tersurat di putaran waktu
dan memenuhi langit dengan makna
berbincang tentang bumi berputar
bercakap tentang cara meniti masa
semua telah tertulis di kitab
dan itu tersimpan dalam jaman
: tinggal niat menyiratnya
menari jari berhitung keagungan
doa bersenandung hanya di hati
terus menelisik dosa yang tertinggal
menetes manik air menyentuh tanah
kuadukan keresahan
yang tak juga terkikis di perjalanan
Friday, 19 December, 2008
JALAN
siapa ?
tengah malam melintas di tubuhku
mengganggu lelapku
AKU
diam…
BULAN
sepertinya seseorang memerankan
drama kepedihan
penuh lelah dan penat
AKU
diam…
terus berjalan dalam kebisuan
menikmati keramaian di dalam benak
JALAN
hmmm, perjalanannya membawa beban
membuatku ikut merasa lelah
(jalan menggeliat)
BURUNG MALAM
biarkan dia melewatimu
mungkin hanya engkau yang dapat membantu
meneruskan perjalanan mencari pagi
RUMPUT, POHON
biarkan kami meneruskan angin
buat mendinginkan jiwa dan hatinya
AKU
diam
tersenyum
lelah
Wednesday, 17 December, 2008
berbisik sebuah nama
di satu titik di jagat semesta
berharap ada yang membawa
kata itu ke arasy
dan Kau akan mengingatku
dan aku tak sekedar di loh mahfuz
Tuesday, 16 December, 2008
dingin tajam menghujam
menyeruak sisi gelap
hitam pekat menyekat
dada terbekap
lingkar hari bertaut
menelikung dendam
geram masa silam
kembali terulang
membumbung kesumat
mendera nurani
ingin melantakkanmu
di telapak kaki
kilat lenyap
pekat menghebat
dingin luluhkan nadi
sepi mendera utuh
enyah !!!
tak layak kau di sini !!!
……………………
: masih tersisa,
secuil ingatan tentangMU
Monday, 15 December, 2008
raga
sampai kapankah kau tanggung dunia ?
terseok di balik amal dan dosa
merajah bumi dengan bayanganmu
yang kerap timbul dan tenggelam
dan terbekap di lorong masa
raga
kuatkah kau sangga semua ?
meretas waktu, tertitik renta
berkelana lalui titian marka
hingga kau jingkatkan kaki takut terluka
raga
masihkah kau nikmati semburat warna jingga ?
di batas hari di batas cakrawala
sangu dirimu menanti malam
lepaskan penat menyapa maya
raga
kemarilah, mendekat
rebahkan dirimu di petiduran
berdua, kita berbincang tentang esok
Sunday, 14 December, 2008
akhirnya kutoreh dalam
dada dengan belati
kuambil hati
pada kerumunan
yang menatap ragu
mereka mulai mendekat
lihat seksama !
tak ada hitam
terhuyung kucoba tegak
tetap memegang hati
aku terdiam puas dengan hati tergenggam