Archive for January, 2009

petak-petak keramik

Saturday, 31 January, 2009

de,
kutapaki satu satu lantai, dengan mata
mencampurnya dengan kepulan asap di ujung jari
berbaur, mencipta abstrak indah
layaknya lukisan dengan komposisi aneh
berputar berpilin seperti pikiranku
yang semakin menggila berangan
menuntaskan semua dalam khayal.

kuberalih dari petak ke petak
tapi aku merasa masih di situ
garis-garis itu masih sama
tak berpindah tempat
tak bergerak

de,
hatiku teriris melihat senyum dan bening mata
aku seolah terbenam !
hatiku tercekam

bila saja ada yang bisa diulang
mestinya akan ada bagian yang kubuang
biar bisa kubuat kelok lekuk itu lebih indah
setidaknya, aku bisa melihatnya sambil tertawa
atau kusyuk berdoa, tak hanya sekedar merapal kata hampa
dan tidak menatap petak-petak keramik ini, dengan kebingungan

kadang, aku, ingin

Wednesday, 28 January, 2009

kadang aku ingin waktu lambat berjalan
agar aku bisa menikmati semua
rasa yang tidak berujung
melihat kegelisahan orang-orang
yang hilir mudik menggapai kehidupan
dan aku ada di dalamnya
bersama merasakan kegelisahan itu

kadang aku ingin jam berhenti berdetak
biar kebahagiaan tidak cepat usai
seperti yang kurasakan kemarin
agar bisa kusimpan seluruh lukisan
kisah bersama orang-orang
yang kukenal dan yang tak kukenal

kadang aku ingin detik berlalu, lebih cepat
biar bisa kurasakan kepedihan ini
berlalu dengan ligat
sambil menikmati bahagia yang masih tersisa
bersama orang-orang yang kukenal dan yang tak kukenal
dan mengabarkan pada mereka
bahwa kepedihan ini akan cepat pergi
seiring bumi yang berputar

kadang aku ingin matahari terbit di barat
biar bisa kuulang semua sejarah
biar dapat kuhapus semua salah , yang sudah kubuat
biar bisa kulihat kembali sapaan dan senyuman
dari orang-orang yang kukenal dan tidak kukenal
agar bisa kulihat lagi kebahagian segelintir manusia, juga aku

kadang aku ingin merasakan
kepedihan dan kebahagiaan pada waktu yang sama
agar tak bisa lagi merasa, biar perasaan ini hampa

biarkan, kasih…

Wednesday, 28 January, 2009

kasih,
andai derai airmataku tampak
jangan kau hiraukan
itu hanyalah debu yang singgah di mataku
bila tampak sedu sedan olehmu
jangan kau hiraukan
karena itu mungkin sesak nafas oleh batukku
bila langkahku gontai
jangan kau bantu
aku hanya perlu bersandar sejenak menghilang lelah
bila wajahku kuyu
jangan kau hibur
aku hanya perlu tidur, mengenyahkan kantukku

aku tak ingin kau bersedih
itu biarlah untukku
biarkan senyummu mengembang
biar dunia tahu
:tak ada apa-apa !

di balik mendung

Tuesday, 27 January, 2009

bias asap menghilang di cakrawala
lalu tetes air yang horizontal
jatuh, mengalir mencumbu tanah
mencipta rima di bebatuan,berirama
menambah lamunan ke puncak ekstasi

menerawang berandai-andai
di balik mendung, ada mata dewa
menantang, mengajak bersitatap
dan tak cuma memandang beku
malah membuatku semakin membatu !

lalu mulailah
kususun serpihan gambar, sepotong sepotong
kulukiskan warna-warna, segaris segaris
menyesap rasa angin, mencari setitik manis
kurasakan, hempasan badai
ataukah semilir sepoi ?

:ku nikmati saja, walau ternyata itu getir

tetes banyu

Saturday, 24 January, 2009

tetesing udan
ing wayah ratri
rinasa amedhyat ati
ngelingake marang
tembang lintang
kang sirep

tetesing banyu
ora mung ning netra
uga tumetes
ning telenging ati

yen kelingan laku
jalma ing donya
akeh lakon mung kaya boreh
tan rumasuk ing raga
lali jiwa, lali rasa

tetesing banyu ing jagad
nabuh lemah, nabuh manah
kaya suara genthaning amaranggana.
muga kuwi pratanda,
wayahe jalma nggegayuh bagaskara

**  **  **  ** **

tetes air

tetes hujan
malam hari
serasa mematah hati
ingatkan pada
lagu bintang
yang terdiam

tetes air
bukan hanya di mata
menetes juga
di palung hati

teringat lakon
manusia di dunia
banyak, hanya laksana bedak
tak meresap di raga
lupa jiwa, lupa rasa

tetes air di jagad
menabuh tanah, menabuh hati
seperti suara lonceng bidadari.
semoga itu pertanda,
waktunya manusia untuk meraih matahari

garang matahari, terjebak di kepalanya

Tuesday, 20 January, 2009

seperti ranting kering, di sepokok pohon kering
di padang rumput gersang tandus berdebu berbatu
alunan angin, malah membuatnya meranggas
tak setitik airpun enggan mampir, di daunnya
yang menghitam, mengering

sesosok lelaki berlindung,
di balik bayangannya, yang ternyata panas
telapak kakinya terbakar tanah tandus yang membara
kepalanya mendidih, terpanggang panas matahari
berkeringatlah dia, menetes, di kepala, di dada, dan di matanya
diseka, dengan ujung baju yang nyaris tak berwarna

menunggu terik pergi, adalah sungguh membosankan
apalagi, dicaci oleh langunya tubuh yang telah hilang hati

terik yang ditentang, kemudian menghilang
pohon masih mengeluh, daunnya tak tumbuh
rantingnya malah semakin mengering
pokoknya mengeras, tertular tandus tanah
tubuh lelaki itupun membeku
keringatnya membeku, air matanya membeku
lidahnya kelu, hatinya kelu
tersapu angin kering menggigilkan nadi

ah, namun matanya masih membara
sepertinya garang matahari masih tersisa,
terjebak di balik kepalanya

aku

Sunday, 18 January, 2009

aku milik malam, kelam
seperti pekat di tengah kegelapan
memburai perut terang
ke dalam keping-keping
tak berbentuk
tak bersahabat, bahkan pada celoteh
celoteh bintang

aku adalah senyap
di sepanjang lorong ramai
di tengah pesta dan kegembiraan
menceraiberaikan suara sorak
yang bersipongang
tak bersahabat, bahkan pada bisikan
bisikan angin

aku adalah pengelana
beku menyatu dengan jalan
diam membisu berkawan cacian
menari di sepanjang lintasan loka
acuhkan teja di cakrawala
sendiri, meretas hari

aku,
aku adalah kepingan
yang tak kunjung utuh
yang tak kunjung utuh
yang tak kunjung utuh

hilang…

Thursday, 15 January, 2009

berangan memetik manik hujan
tangkupkan dua tangan dan tengadah
masih tampak warna jingga
sisa terang di ujung langit
seperti goresan lukisan dewa
yang menoreh warna dengan angkuh

bermimpi menghirup wangi dupa
di tengah tak tentu yang hilang arah
seperti sulur-sulur melati yang  merambat
di samping gazebo malaikat
tempat mereka berdiam khidmat

sederetan kisah telah mulai usang
penggalan-penggalan waktu lewat
pun sajak yang tak lagi puitis
: telah kehilangan makna

[r]

nyanyian hujan

Monday, 12 January, 2009

hujan deras, air terhempas
mencipta tombak bening
menghujam bumi

batin basah, oleh tempias
beterbangan menunggang angin
menyatukan rasa yang bias

rintik air adalah melodi
yang menyadarkan
bahwa aku tak sendiri

hujan, adalah lembar diari
tempat menuliskan pikir
yang tak ingin kubagi

hujan, adalah sahabat
saat meledakkan benak
yang serasa tak tertampung

hujan, adalah bilik lelahku
tempat mengurai yang teramat
membuang rasa, merebah jiwa

nyanyian hujan, membuatku beku merindu

mata, air mata

Thursday, 8 January, 2009

mentari pucat
mata berlinang
ada jerit
liris
miris

berkubang darah
berkubang air mata
berkubang doa
berkubang duka
berkubang prahara

air mata siapa ?
tangis siapa ?
ratap siapa ?
anak manusia

rembulan pasi
asap meninggi
merah jingga api
merona langit

tertadah tangan
tak terhingga
terbentang muka
mata tak berkata

pias, pias, pias
wajah tak berdarah
wajah kosong
tercetak pasrah
dan geram
tak berdaya