Archive for February, 2009

kabarku, baik-baik saja ?

Wednesday, 25 February, 2009

sungguh menyesak
seperti terbenam
di kedalaman palung.

nyeri perih
terpaku, menghujan
di setiap mili hati.

jejak hari, mengerak
memberat isi kepala dan dada.

kau tahu ?
berbaris telah, harap kutabur
terasa panas hembus nafas
menyelimuti sekujur tubuh
yang semakin rapuh

kau tahu ?
kuukir setiap detik
dengan titik embun di sudut mata
kuseka, seketika
kutatap garang

kau tahu ?
tentang bilik sembunyi
yang menyekap resah sedih
biar hanya tampak diam
atau titik senyum

ada berlaksa andai
juga sepenggal nyanyian luka
yang berulang, di setiap ujung angan.

apakah kabarku baik-baik saja ?

perempatan jalan

Sunday, 22 February, 2009

di perempatan jalan
terlukis lamun
sarapan asap debu
dan deru melintas

manusia melaluinya
aku di sana
ada lelah tak terlihat
ada resah yang berdusta
tak rasa tulang berderak
atau ngilu urat
ada kesah yang memberat langkah

duh, Gusti
bukan persimpangan ini
yang membuat benakku berputar
hanya, tercetak di kepala
petak-petak yang semakin menganak pinak

rindu dendam

Wednesday, 18 February, 2009

bukan memasung
rindu memelukku
seperti matahari yang menghangati
seperti malam yang bersetubuh dengannya

rindu, rindu dendam
selalu menoreh luka
yang tak mau sembuh
membungkam mulut
menahan jerit
menambah jerih
di dada

rindu, rindu dendam
pada detik dan setiap porinya
meracun darah di aliran nadi
tak mau hilang
tak akan terbuang
tetap berkubang
di dada

rindu, rindu dendam
merengkuh di relung malam
menggila di peluk hujan
menguntaiku di jalinan hari

: ku tak mau bernafas tanpamu

kamboja buat bapak

Friday, 13 February, 2009

kamboja itu sudah aku tanam, bapak
di atas pusaramu
itu yang mampu kulakukan
untuk mengingat bahwa aku masih anakmu

masih ku dengar pesanmu di jiwa
walau tak sepatahpun
pernah kau katakan padaku
atau hanya sekedar satu belaian
nina bobok yang mengantar tidur

bisa kurasa rindu padamu, bapak
walau aku tak tahu apakah kau
pernah merasakan yang sama
atau sekedar memikirkan yang sama

kamboja itu sudah tumbuh
di atas pusaramu yang sepi
menjatuhkan bunganya satu persatu
menjagamu dari terik matahari
dan semoga, kaupun bisa mencium wanginya

: mungkin, tahun depan
aku akan mengunjungi lagi pusaramu
untuk menyapa, dan berdoa di situ

[r]

sepucuk jiwaku menghilang

Tuesday, 10 February, 2009

hari itu, sepucuk jiwaku hilang
meninggalkan jejak pedih
meniris air mata
menyisa jelaga di sudutnya
saat menatap ruang itu, kosong

mengusap membelai udara
yang bertahun menyahut berbincang
dan bercengkerama dengan alunanku

hanya tertinggal
kilasan tumpang tindih
gambar-gambar yg beranyam
seperti photo-photo tua di album lusuh
berkisah di sisi tembok kusam

tepekur di pojok ruang
bersanding debu, berhias sawang
biasanya, di situ aku mereka
tapi, kursi itu tak lagi ada
menguap seperti melodiku
membuatku menunduk, penuh
malah membasahi lantai
dengan tetes kesedihan, melangut

entah, entahlah
kapan cuilan itu akan kembali.
mungkin saat sulur-sulur melati
kembali tumbuh dari lemah
menggoda dengan harum pagi dan malam
menunggangkan kembang pada angin lewat.
menyusun lagi serpih-serpih
dari luluh lantak yang bersembunyi

:aku, akan merindu wangimu

barisan sujud

Saturday, 7 February, 2009

satu dua,  edaran bulan
terjebak dalam riuh pusaran
melupa hening alunan
saat embun mulai jatuh
menyapa dahaga rumpun daun
dan celoteh angin liris

kurasa kering alas malam
seperti kerontangnya manah
sempat terlupa membasahinya
dengan sisa air di muka, di kening
sesekali tetesan bening di sudut mata
dan sejuta keluh kesah
dan sedikit doa

pada barisan sujud
semoga namaku masih terselip
tak pernah tertepis atau terkikis
selalu menjadi bagian deret di sana
meniti jalan di tulisan waktu
mengentahkan titik tentu
dan bersabar menghitung nikmat
yang tak sadar, telah tersaji
di setiap edaran bumi

Rabb,
ampuni aku

notasi pagi

Wednesday, 4 February, 2009

angin bertiup lirih masih
liris nyaris,
membawa embun
enyah dari pucuk daun,
berkelana ke entah
menunggu hari lelah.
daun di dahan itu luruh satu
saat kulihat.
di tanah berserak
telah kering coklat.
terang di ufuk
kuning semburat.
adalah matahari
adalah berjuta mungkin

letik memori kembali
dari peraduan semalam
seketika kangkangi benak
menelisik di sela geliat
seperti lugut yang tak mau pergi

bergegas langkah meretas jalan
mengejar jejak yang sempat tertinggal

:notasi hari yang beranjak pagi