Archive for March, 2009

gumatya, ingya arepi ning gathayu

Tuesday, 31 March, 2009

gumatya, mungkin ini adalah doa.
bermula di suatu saat,
di penghujung waktu matahari

seorang diri, sepi,
namun tak sunyi
berjalan  menyusuri jalan legam,
lurus tak berkelok barang setitik
menghilang di nun, entah
beratap kelam, teduh, tentram
cahaya berpendar, tak surya, tak rembulan
tidaklah gelap, bukanlah benderang,
jauh mata, bertepi putih,
namun tak putih memandang,lapang jernih
rindang, tak berpohon

terus menyusur temaram
tak henti tanya, dimana
sepanjang tapak, sejauh jejak

tercegat pinta, tak berupa
‘menyembahlah, dua helaan saja’
tergelar alas di tengah jalan
suci, menyertai di pijak kaki
kiblat, dia ada di hadapan
uluklah salam, menatap jauh
di ujung utara dan selatan
tafakur sejenak, gaman diletak,
penjaga ruh, lenyap ditangan kanan

:suatu saat, di ujung hari, dan itu, di gathayu

_______________________________
gumatya, ingya arepi ning gathayu (bs. kawi)
sungguh, aku mengharap ada di tempat kebaikan

duh…

Tuesday, 31 March, 2009

gusti,

sebenarnya, apa yang  kau maksudkan

?

hanya angan pengantar tidur

Friday, 27 March, 2009

beranjak gelap,
membawa nyanyian senyap
bermantramantra di usai matahari
terbawa, dari puncak langit
menjuntai ke bumi, di garis cakrawala
berbinar sesaat, kemudian lenyap
meninggalkan lamunan
pada sang penyajak

menanti pecahnya janji
oleh retak mulut
yang bergumam, katakata
makna menyepuh kata
kemudian, hati yang mengulang
setiap saat, setiap saat
setiap hela, nafas tanpa jeda
melupa

membeku, terbayang waktu
ini, bukanlah penggalan terakhir
masih banyak detik tak terhitung
dan sisa di atas batas
bukan sekedar sekelebat, lewat
dan, tak hanya angan-angan pengantar tidur

tapi tetap saja, diri menepis alun
abai akan larik, yang liris berbisik
semakin meneguh ingkar, mengakar

sesuatu menghujam, perih

Monday, 23 March, 2009

retaklah malam, menelusup
singkirkan hingar bingar.
saatnya sunyi.

harum tanah, basah
serpihan-serpihan berserak
melayang, melayang
pahit berputaran, berpusar liar
menjemput getir
ingin teriak membelah langit
menikam bulan
memburai pekat

masih berkudung murka, merajalela
hati, hampir pecah terlindas
luluhlantakkan setiap sendi,
setiap otot, setiap pori
menatap mata yang tak dikenal, nyalang
merasakan panas nafas, mendengus
menggetar !
uh, tercium bau neraka !

setitik,  sampai batas.

terhempas tubuh di peraduan
menyekat angkara,
bersepisepi
membekap nafsu,
mematri

aku rindu hujan,
aku rindu kesunyian.
kemana harus mengasing ?

sesuatu, menghujam, membekas perih
entah dimana, entah

renjana

Thursday, 19 March, 2009

terjerat renjana
adalah, bayang
di jejak tapak hari
berakar, menjaring titik titik
menisik sulam, menganyam
di relung relung benak
yang enggan terjaga
sungguh melangut, membelenggu

tidakkah bosan menunggu ?
bila setiap detik bukan pencarian
hanya diam, terkelu
sedang segala sketsa berkelebat,
memenuhi isi kepala, isi hati, ligat
konon, lirispun terdengar jelas di mimpi
menggoda tak berkesudahan
bersahutsahutan

ah, sudahlah
tepiskan saja katakata,
itu telah tergambar
jelas, walau siluet,
samar-samar terhalang pudar.
syahdan, teriakanpun percuma
hanya semakin menambah kesiaan.
bukankan bisik di keheningan
telah mengajarkan,
dia akan sampai di ujung pinta.
biarkan saja malam menjadi selimut
menghangatkan setiap cerita tak bertepi

bulan belum lagi sempurna

Monday, 16 March, 2009

bulan, belum lagi sempurna
masih banyak sisi hilang
terbius, waktu
terbias angin beku

arakan halimun meratap
berpegang pada salah satu sisinya
enggan beranjak
menebar gelap, di tapak tanah
yang menjalar menutup lamun

membatu,
di tepian usang menopang dagu
menyingkap sebuah hakikat
tentang celoteh kumbang, perindu kembang
atau cerita hujan yang tertahan

menyepi,
setiap letik sesungguhnya
telah memberikan pada jiwa
saat tapa brata, menunggu tiwikrama
nanti, sampai di penghujung penantian
nanti, sampai di batas hakiki

sepanjang bebatuan terturut jejak
rahasia penuntun, ke ujung jalan
memintal kisah sang embara
mencatatkan larikan sepi dan keramaian
:sampai nanti

mata pelangi

Saturday, 14 March, 2009

mata dalam bingkai
tak terganggu cahaya pendar
bukan larik bias yang memencar pantul bayang
bingkai itu, buram itu, menghalang pandang
terbaca wajah pelangi, semu, utuh
terpantul bayang, di matamu, separuh
mata sesiapa

mata dalam bingkai
mata itu, mata orang-orang
bukan mata bianglala, bukan mata hari
hanya mata hujan atau mata malam ?
yang tak bisa ditembus terlalu dalam
bisa membuatmu terpasung
bisa membuatmu terpalung

telah kukatakan,
tak usah kau lelah menerobos
(atau mendengar liris ?)
cukup kau tatap
aku yang akan membacakannya, untukmu

telah kukatakan,
tak ada ujung pelangi
itu ada di pojok matamu
menari

 

inspired by : Hezra’s Mata Baca

ini aku !

Tuesday, 10 March, 2009

hari  yang panas
perjalanan, udara yang memanggang
bertemu maya yang selalu membayang
di setiap lekuk waktu
tahukah ?
itu membuatku berdebar
seperti pertama bertemu pacar

sungguh, ada yang membuatku kepincut
sepertinya ada binar di tatap mata
mungkin kita pernah bersapa
dulu, dikehidupan sebelumnya
mungkin

waktu berjalan cepat
dua putaran hanyalah sekelebat
masih banyak ribuan kata
yg tak sempat terucap
ada ribuan rasa
yg tak sempat tercecap

senyum simpul, kediaman
banjir kata, bahana tawa

sebagian misteri terkuak
kepingan puzzle terpasang
inikah dirimu ?
ini aku !


[buat : sahabat2ku. kau, sahabatku, apapun !]

tanah kecilku

Friday, 6 March, 2009

menjejak tanah
disini kecilku
telah aku hafal lekuk debu
kepak gagak dan suara bumi
tertanam setaman ingatan
tembang daun bambu
di pojok kebun
jalan setapak angin

pokok pohon adalah
penyandar kesah
helai daun, retak lemah
percik banyu, keraka
berlomba di merah tanah

itu, sedikit yang masih teringat
bagian kitab yg telah kuhafal