Archive for April, 2009

kemuning, kemuning

Wednesday, 29 April, 2009

kemuning, kemuning
lihat lambaianku, lemah layu
seperti daunmu yg tersekap waktu
menunggu jatuh dan tersia angin
tergilas, kering, menyerpih

kemuning, kemuning
dengarkan gerahamku, gemeretak beradu
seperti dahanmu yang lelah kaku
berderak retak, menunggu patah
dan jatuh, menghujam tanah

kemuning, kemuning
rasakan bosanku, berpeluh berdebu
seperti pokokmu yang kering tergugu
menunggu tercerabut rebah tumbang
mengenang, yang tak lagi terulang

:
kemuning, kemuningku
tunggulah,
mungkin, pada saatnya nanti
kita akan terbakar bersama,
berpeluk di api neraka
yang menjilat pelosok pori,
dan menghangus setiap serpih dosa

memerih

Wednesday, 22 April, 2009

berhembuslah angin
hembuskan dirimu
pada dingin yang paling beku
biar terasakan dirimu menyelimuti
merayap di sekujur tubuh yang kelu, membatu

merintiklah hujan
temani aku di kesunyian
teteskan titikmu yang paling tajan
biar menggores hatiku yang telah memerih
atau, hujamlah jiwaku yang rentan, tertikam

bertiuplah angin
tiupkan sepimu
pada suara yang paling senyap
biar kurasakan dirimu membekap
menyekapku di setiap helai nafas, tercekat

merinailah hujan
turunkan tetesmu
deras, yang paling deras
biar kurasa bilahmu menguliti
atau, menghempasku

habis.

ingkar

Wednesday, 22 April, 2009

bapakku, ingkar
ibuku, ingkar
saudaraku, ingkar
kawanku, ingkar
kepalaku, ingkar
hatiku, ingkar
semua, ingkar
ingkar,  mengakar

:bagaimana aku menepati janji ?

menengok tuhan

Friday, 17 April, 2009

siang itu,
aku datang
ke rumah tuhan
bedug berdentam,
dada terhantam

hanya menengok, aku
suasana di sana masih sama
penuh gumam dan bisik-bisik doa
ah, itu bukan urusanku

aku datang, hanya ingin menengok tuhan
sekedar memastikan, apakah dia baik-baik saja
soalnya,  sudah beberapa waktu kukirim pesan
tapi belum juga dijawab

apakah dia sedang sibuk ?
entahlah

hari itu, saat kutengok
ternyata dia sedang tak di rumah.

bukan istana pasir,

Sunday, 12 April, 2009

aku tak mau,
kau bangun istana pasir, untukku
yang akan luluh berkeping
saat diterjang ombak
ketika aku, masih ingin bermain

aku tak mau,
kau beri pelukan kabut
yang akan beranjak hilang
saat panas mulai menikam,
ketika aku, masih ingin merasainya

aku tak mau,
kau sajikan penggalan mimpi, indah
yang akan serentak lenyap
saat aku mulai terbangun
setelah membuatku mengalun

aku tak mau itu.

tinggalkan saja aku, hatimu,
tak kurang,
tak lebih.

selembar daun waru

Wednesday, 8 April, 2009

selembar daun waru,
apalah artinya ?

manik embun dan,
titik debu tak juga membuatnya beda
tetap akan tersurat sama, terbaca sama

gurat daun tak tersirat, jelas
tiuplah, selayak angin membelai helai
terkuak gurat-gurat
seperti lembaran kitab yang tak bersekat

hembuslah, selayak angin mengayun
dia akan menari mengikut takdir
mengarung waktu, kemudian
menjadi coklat dan kering,
apalah artinya ?

daun waru kering terserak,
di tanah coklat
dia telah mati, dilupakan