Thursday, 28 May, 2009
hati membadai, membaca sajak hujan.
meniti rinai yang semakin abstrak
jatuh di telapak kelopak melati
yang menggeliat dicumbu angin
daun ketapang kering jatuh luruh
luruh bersama tetes air yang memburai
dari perut langit, yang memekik.
terkenang di sudut benak
hati membadai, teringat rindu
menunggumu di beranda depan
di salah satu sisi semadi
yang telah mulai terlupa.
hanya ingatan tentang tetesan
pucuk air di pucuk daun,
tentang keping batu yang tersusun
menghitam, tergambar basah
di bawah tapak-tapak langkah
yang menyusun hari-hari
hati membadai, lukisan-lukisan tua
memaksa datang, menelikung dari balik sunyi
seolah ketitir berdendang asmarandana
memenuhi loka dengan nada-nada
bagai cenderasa yang menghujam, menikam
di atas kayu coklat tua, jiwa terlena
o, kapankah datang lagi tembang itu ?
biar mengisi ruang, yang kini mulai kosong
yang bersusah menepis getir,
menelan rindu yang semakin pahit
:di beranda itu, aku ingin menunggumu, lagi
Monday, 25 May, 2009
titik air menari
di trotoar yang tak rata
ada gradasi abu-abu entah di langit
selayak tabir, yang menghalang mata
begitu pelit dia menunjukkan birunya,
saat ini
lenggok, alir air
tak menentu, mengisi celah-celah
tak tahu tujuan, hanya mengalir
mengikuti kodratnya
kali ini suara rinai
tak pongah sendiri
ada berisik kehidupan
yang lain, seolah tak mau kalah
hingar bersaput peluh
yang tersamar di selimut hujan
titiktitik masih menitik
di genang air, yang terjebak cekung
berlompatan, layaknya balerina meniti irama
rasanya masih betah di sini,
bercengkerama dengan tempias
sepertinya, hujanpun masih betah
membasahi bumi, menenangkan
Thursday, 21 May, 2009
terkutuklah,
anjing-anjing yang berebut tulang,
dikiranya dengan menyembunyikan taring,
hilanglah wajah buas.
alih-alih terlihat alim,
malah terpampang jelas, munafik.
liurnya mengalir deras
dari lidah yang terjulur, penuh serakah
meneteskan darah.
Monday, 11 May, 2009
hati, bersepisepilah
temani matahari tua,
yang mungkin telah lelah,
melewati rangkaian kisah-kisah
atau, bercengkerama dengan pucat
wajah bulan di tengah malam
sambil menikmati dingin embun
yang menetes di puncak hari
mumpung keramaian sedang menjauh darimu
hati, tenanglah
lalui saja perca-perca cerita
seolah kau pertama kali, bersapa dengannya
biar dapat kau rasa ekstasi
dan berharap, itu tak membuatmu bosan.
bila itu membuatmu berpeluh
berarti, itu tanda kau masih hidup
jadi, bernafaslah terus
sampai udara ini habis
hati, tenteramlah
diam saja denganku di sini
kita bisa saling memandang, berbincang
sambil menikmati asap rokok, dan secangkir kopi
Tuesday, 5 May, 2009
hari ini,
masih ada matahari.
dia menyelinap di balik daun
jatuh, menerpa aku
membentuk bayangan tak utuh
tergambar di tanah,
yang tak juga rata.
seperti mozaik yang belum jadi
setitik matahari, sebenarnya
cukuplah menjadi penerang gelap
tapi, dia enggan menembus jiwa
atau, akukah yang selalu menepisnya ?
hingga terasa kelam
pekat, seperti terjebak labirin penuh sekat.
tak berujung, itu pikirku.
hanya berakhir di ujung takdir ?