air beriak, lalu bergolak
dihempas angin di wajah kelu
seperti nafas yang mendesak
menyengat,
laksana terajam sejuta laknat
mengapa seolah mayapada berselingkuh dariku ?
mengingkari janji untuk bersekutu
seperti yang pernah dituliskannya
di lembaran langit yang kutahu, membiru
bukankah tak pernah kutulis sajak mendayu
ataukah tak sadar aku telah terlalu congkak
hm, riak air bagai lagu kebosanan yang tertampak
pada hari ketika Kau memperhatikan
saat Kau ijinkan membasuh muka dengan tangisan
saat terlolos roh sekejap mengingkar raga
saat pahit mencekat di tenggorokan dan di dada
ada rasa yang terlepas
Gusti,
mengapa tak bisa aku menangis lagi
biar tercerabut pedih ini
lewat tetesan air mata

