Archive for October, 2009

menjauh

Saturday, 31 October, 2009

berjalan terhalang ingin
mengeras di sudut entah
terasa, tafakur seribu waktupun
tak menjadikan dia mengalir
melawan tuntunan takdir

dan rumah menjauh
terpanggang nafsu yang bergolak
menggerus nurani yang perlahan aus
tak terasa runcingnya lagi
melukai dinding hati
saat ingin melawan diri

dan jiwapun jatuh
melayang tergantang di awang
bahkan enggan tak mau menyapa
hanya nadir yang hadir memeluk.

syukur, dan kata itupun terucap berat

[jari menari begitu saja] ketika hujan

Saturday, 24 October, 2009

pernahkah kau mendengarkan nyanyian hujan?
menyela, menelisip jauh ke sudut hati
mengalun batin untuk ikut menembang
dan tak ada nada lain

pernahkah kau membelai rinai hujan?
merasai titiknya yang jatuh
lirih liris meresap ke pori
merencah, menyelimuti

pernahkah kau menari dengan hujan?
bergandeng, rentak menandak
berputar, mengayun
dan memeluk dirinya erat

pernahkah kau menyatu dengan hujan?
membawa kerinduannya di dalam setiap detak detik.

saat batin bersanggit

Saturday, 24 October, 2009

aku tepekur di lalu lalang
terdiam di ambang keramaian
mengais tangis malaikat
yang mau merapal untukku
di setiap pucuk waktu

aku menggeliat di kolong langit
di tempat buatanMu, Gusti
mencari ujung dan pangkal nasib
terasa seperti meniti rambut dibelah tujuh
yang ternyata bukan hanya di akhirat

jalanku terhalang keinginan
semakin mengeras di sudut entah
tafakur seribu masapun
tak menjadikan dia mengalir
menuruti kehendak takdir

rumahku menjauh
seiring nafsu yang bergolak
memperkosa nurani yang perlahan aus
tak terasa runcingnya lagi
melukai dinding hati yang tak terturut

mantra itu mengulitiku, sepanjang waktu
seperti bilah, yang memerih menoreh kulit
tanpa jeda di setiap tarikan nafas

selamat pagi, cantik

Thursday, 22 October, 2009

selamat pagi, cantik
apa kabarmu hari ini ?
masihkah bosan dengan kisah-kisah,
yang selalu memuntah dari mulut dan pikiranku?
yang tak berhenti, memantrakan keinginan dan angan?

ah, masa bodoh denganmu cantik!

biarkan aku, menjelang hari, bergegas,
menapaki matahari yang mulai mendaki
menguapkan malam, tak bersisa
membuat fragmen baru dengan sinar
yang jatuh gemulai di pucuk daun berembun
bermain dengan bayangan
mencipta silhoute di dinding retak dan tembok bata
bergerak, menari, seolah terabaikan
tapi tidak buatku
lenggoknya, membawa rasa

telah pagi, cantik
gegaslah,
matahari mulai tinggi
hangatnya menepis semu bayangmu
semu yang semakin menyelimut
semakin menyungkup seluruh pori.
membuat penuh rongga dada.
menyesak!
pergilah, aku mulai muak
dengan andai-andai dan mimpi tentangmu.

Gusti, di bagian mana akan Kau tulis itu di loh mahfuz?

Wednesday, 21 October, 2009

bertangkai mimpi, menjadi api-api
di balik peluh dan luhku
berlaksa angan, menjadi api-api
di balik peluh dan luhku
aku menapak jejak hari,
mematri nyawa pada renjana
pada ku dan pada Mu

di bagian mana akan Kau tulis itu di loh mahfuz, Gusti?

karena aku tak tahu,
apakah ada kebaikan disana
sepertinya jiwaku telah teracuni
dan menjadikannya sebagai nyawa
mestinya, sejak semua menjadi repihan
yang akhirnya luruh di teriakan dan diam,
sudah kukubur semua keinginan
dan kuberi nisan tak bernama

apakah masih berarti,
untuk menyimpan walau sejumput,
kisah-kisah yang mengambang itu?
sesungguhnya aku bingung,
dimana harus menyimpan
seluruh cerita-cerita tentangku, tentangMu?
kukunci dalam benak
ataukah kubiarkan menguap,
menyatu bersama udara
yang selalu terhirup
dan beredar di sekujur nadiku?

Gusti, di bagian mana akan Kau tulis itu di loh mahfuz?

mozaik malam

Sunday, 18 October, 2009

menyiangi liris malam
kunikmati silir angin yang mendesah resah,
membisik telinga
dan satu persatu mulai kupasang mozaik dirimu di benak
seperti waktu-waktu lalu
yang telah berkelebat meninggalkanku di perhentian
tak tahu, apakah kaki yang enggan menapak,
ataukah pikiran yang terpaku,
mungkin juga detik berdetik lebih kebat di sekitarku,
dan aku, semakin melambat
mungkin

melalui hari, seperti hanya untuk menunggu malam
saat bisa meluang masa, berkelana berangan-angan
meniti mimpi yang kadang bermain di mata telanjang
entahlah, beberapa keping dirimu seolah menghilang,
seolah lenyap, menjadi gambar yang tak lengkap
aku merindu

sajak buat cantik

Thursday, 15 October, 2009

cantik, apa kabar hari ini ?
lama sekali kau tak menemuiku
aku rindu sentuhanmu.
yang mampu meredam gelegak yang meluap
namun mendidihkan darah di seutuh raga

cantik, apa kabarmu hari ini ?
masihkah kamu membiarkan bosan mendekap ?
dan merajutnya dengan semua andai-andai yang kubuat.
terlalu dalam rupanya, rindu yang menyakit
bahkan untuk sedikit membuang senyum, pahit

cantik, apa kabarmu hari ini ?
kuharap kau baik-baik
merenung di sana, sebuah ujung, entah
memandangku, yang sedang termangu
hingga habis rasa bosan, yang memelukmu

:
cantik,
aku di sini
menunggu di persimpangan
sambil menyulam rintih, liris mantra dan hari

kontemplasi di satu sudut

Tuesday, 13 October, 2009

:
malam tetap mendurja
malam masih menyepi
malam tetap dengan diamnya
biarlah
dia mendekap jiwa yang melangut, erat

:
mematung, termenung di satu sudut
mencoba memupus bara di kepala
yang tak juga hilang, sisa semalam
malah menambah bayangan gelap di kantung mata,
mengais rasa di balik silir angin yang mulai memanas.
terlukis di angan,
saat ini aku rindu matahari
saat ini aku rindu hujan
kuandaikan mereka bersirobok
dan terlukis pada tembok bata, di depan mata
mengandaikan, itu akan mencipta ekstase
seperti pelukan dingin malam
yang meredam ribuan gejolak yang beranak pinak

:
mendesahkan larikan asap
yang mengawang mencoretkan abstrak.
menunggu

malam [II]

Sunday, 11 October, 2009

ada saatnya, malam marah tak ramah
mendidihkan sakit seperti barah
hanya sunyi yang bisa dinikmati
bercakap khayal dengan segala amsal

ada saatnya, malam pekat menghitam
bisu kelu, seperti angin yang membatu
hanya sunyi yang bisa dinikmati
bersipongan dengan degup jantung dan detak nadi

tahukah, ada sajak di balik malam
dia memeluk embun yang jatuh di ujung waktu
menenangkan

tahukah, ada rima di balik sepi
dia berdesir liris menyentuh hati
menenangkan

malam

Saturday, 10 October, 2009

menggeliat merayapi sepi
menyungkup kelana
yang membiak di benak
sekejap terlempar melayang
kosong, mendekap kediaman

ah, andai bisa
selalu menyetubuhi sunyi dan damaimu
dan membiarkan mereka menelusup liar
di penjuru urat nadi dan seluruh mimpiku