Wednesday, 18 November, 2009
melarut dalam nyawa matahari, di batas cakrawala
menuntaskan hari yg memerih, di ujung jingga
berkendara menjemput mimpi
terlewat petak teka-teki
esok, apa yg akan terjadi?
lepas malam, aku sembunyi
picing mata, tenggelam pada sepi
berlalulah sedih, lalulah pedih
lepaskan tanganmu yg memeluk pikirku
biarkan dingin embun besok, menetes di kepalaku
Friday, 13 November, 2009
singgah.
di teras rumah Tuhan.
rinai jatuh, suatu siang.
terlihat bayangan di jendela,
ada mata berkaca.
kubaca.
hanya rindu,
di sana.
Thursday, 12 November, 2009
mendung memayung
malam, membuat kekat dalam gelap
jingga segaris menggaris mata, lenyap
dan pekat memburai meruap
cenung, di sudut entah
rombang-rambing sudah di batas
seolah lantang menantang mati.
apakah nafas telah luyu lelah?
apakah tertampak muka angkara?
apakah api telah merubung raga?
bosan, mendominasi, makin keji.
hei, bagaimana kalo kita bilang sama Tuhan,
biar secepatnya merampungkan dunia.
anggaplah kita minta kiamat besok,
dan kemudian terbangun di akhirat.
:
Gusti,
luluhlantakkanlah semesta ini.
hancur.
lebur.
biar menyatu dengan repihanku.
Thursday, 12 November, 2009
anjing!
begitu kumaki bayang di kaca.
Monday, 9 November, 2009
lepas maghrib
aku belum juga cucimuka
entah sudah berapa mili
tertutup topeng kerak daki
terasa sekali ikut tersumbat di urat hati
lepas maghrib, lepas
aku masih membuang muka
asyik bercermin dan menatap dengki
sepotong rupa di seberang ,sama
kucaci balas memaki
lepas maghrib, lepas isya
aku melupa cuci muka.
Saturday, 7 November, 2009
enyahlah
mungkin nanti aku akan terbahak
saat kau merapuh di kakiku!
Saturday, 7 November, 2009
bisa saja kusebut namamu berjuta kali
bahkan kerikil di bumi tak akan dapat menandingi.
atau kubayangkan dirimu setiap waktu
bahkan sampai terlupa wajah ibu.
bisa saja kukuduskan setiap kenangan tentangmu
dan kubingkai setiap jengkal tubuhmu di balik kepala.
tapi, itu hanya andai,
dan kurasa tak perlu.
Friday, 6 November, 2009
sepanjang jalan, basah
mendung yg menggantung,
dedaun pohon kuyup ditikam, hujan
dan ditemani kuldesak.
jemari hujan membelai, mata
airmata yg bersetubuh rinai,
menggigilkan hati.
aku rindu, aku rindu.
dan dicumbui kuldesak.
dingin angin menyungkup pori,
menampar aku yg tak sadar,
terambing di galau berantah,
merambah roh dan raga
dan aku, kuldesak.
Wednesday, 4 November, 2009
kuutus rohku untuk menyapamu.
menciumi mimpimu.
dan bulan pun terpenggal.
menyisakan senyuman di balik awan.
mestikah hujan mengumbar tangisnya?
tak apa.
rinainya akan menghias malam.
maniknya akan mengusir kebisuan.
menampar jendela kaca yang mulai kusam.
menikam bumi.
menikam waktu.
membelai dedaun yang membatu, kelu.
di penghujung waktu.
kuutus rohku untuk menciummu.
di titik air yang terakhir.
Wednesday, 4 November, 2009
alifbata,
baru saja tereja.
berikutnya,
harus berpacu, cepat!
meninggalkan sadar, di belakang kepala.
sampai hembus nafas tak terasa, di ujung bibir.
sampai kaki tak terasa, berbantah dengan lancip kerikil.
sampai nyawa tak terasa, memegat raga.
sampai! mati!