mozaik malam
menyiangi liris malam
kunikmati silir angin yang mendesah resah,
membisik telinga
dan satu persatu mulai kupasang mozaik dirimu di benak
seperti waktu-waktu lalu
yang telah berkelebat meninggalkanku di perhentian
tak tahu, apakah kaki yang enggan menapak,
ataukah pikiran yang terpaku,
mungkin juga detik berdetik lebih kebat di sekitarku,
dan aku, semakin melambat
mungkin
melalui hari, seperti hanya untuk menunggu malam
saat bisa meluang masa, berkelana berangan-angan
meniti mimpi yang kadang bermain di mata telanjang
entahlah, beberapa keping dirimu seolah menghilang,
seolah lenyap, menjadi gambar yang tak lengkap
aku merindu


yaz says:
April 23rd, 2010 at 1:04 am
puisinya bagus-bagus…!
[Reply]