telah malam
inilah waktu untuk telanjang
melepas penat dan segala geliat
dan menukarnya dengan andai-andai di atas dipan
telah malam
sayang, wajah bulan tak tampak
hanya pekat yg menyatu dengan bumi
menjadikan gelap semakin sunyi
malam sudah
saatnya meninggalkan resah
di depan pintu rumah.
ini tentang sekelumit siang
yg memandang nanar pada para peraga
berceloteh ramai tentang liarnya dunia
lalu lalang nasib adalah biasa
seperti setiap kejab menyiasati nyawa
ini tentang sepotong malam
yg sebentar menjadi tinggalan kembara
untuk mencoba kembali rasakan buaian
ninabobok rengekan masa belia
meringkuk nyaman di sudut waktu
menginginkan terlupa dan melupa
ini masih tentang kisah hari
saat ingin memeluk matahari
dan biarkan sinar merencah sekujur jiwa
biar menyatu dengan semesta
biar, biar bersenyawa.
melewati siang malam bersama
dan biarkan cinta memeluk
menempuh sepanjang jalan
dengan rasa yang tak akan habis
selami gemintang kurasa
menjadi sepasang binar
menjelajah semesta, berdua
dan ditemani rasa yang tak akan habis
tampakkan senyummu bersama mentari
esok, menyeruak memecah hari
menyertai langkah menapak bumi
dan ada cinta yang tak akan habis.
: sepuluh tahun
aku menyulam waktu denganmu
masih panjang masa kita bercengkerama
di sini dan nanti, di sana
*buat istriku
melarut dalam nyawa matahari, di batas cakrawala
menuntaskan hari yg memerih, di ujung jingga
berkendara menjemput mimpi
terlewat petak teka-teki
esok, apa yg akan terjadi?
lepas malam, aku sembunyi
picing mata, tenggelam pada sepi
berlalulah sedih, lalulah pedih
lepaskan tanganmu yg memeluk pikirku
biarkan dingin embun besok, menetes di kepalaku
singgah.
di teras rumah Tuhan.
rinai jatuh, suatu siang.
terlihat bayangan di jendela,
ada mata berkaca.
kubaca.
hanya rindu,
di sana.
mendung memayung
malam, membuat kekat dalam gelap
jingga segaris menggaris mata, lenyap
dan pekat memburai meruap
cenung, di sudut entah
rombang-rambing sudah di batas
seolah lantang menantang mati.
apakah nafas telah luyu lelah?
apakah tertampak muka angkara?
apakah api telah merubung raga?
bosan, mendominasi, makin keji.
hei, bagaimana kalo kita bilang sama Tuhan,
biar secepatnya merampungkan dunia.
anggaplah kita minta kiamat besok,
dan kemudian terbangun di akhirat.
:
Gusti,
luluhlantakkanlah semesta ini.
hancur.
lebur.
biar menyatu dengan repihanku.
anjing!
begitu kumaki bayang di kaca.
lepas maghrib
aku belum juga cucimuka
entah sudah berapa mili
tertutup topeng kerak daki
terasa sekali ikut tersumbat di urat hati
lepas maghrib, lepas
aku masih membuang muka
asyik bercermin dan menatap dengki
sepotong rupa di seberang ,sama
kucaci balas memaki
lepas maghrib, lepas isya
aku melupa cuci muka.
enyahlah
mungkin nanti aku akan terbahak
saat kau merapuh di kakiku!
bisa saja kusebut namamu berjuta kali
bahkan kerikil di bumi tak akan dapat menandingi.
atau kubayangkan dirimu setiap waktu
bahkan sampai terlupa wajah ibu.
bisa saja kukuduskan setiap kenangan tentangmu
dan kubingkai setiap jengkal tubuhmu di balik kepala.
tapi, itu hanya andai,
dan kurasa tak perlu.