aku melewati hidup di hempasan gelombang-gelombang
melawan atau mengalun di sela-sela hantaman
menahan tikaman yang bertubi seolah rajaman
menikmati lebih banyak sakit yang enggan meletik
menahan jerit di balik hati yang terbangun bilik
dan itu yang kupikirkan, bukan yang kau rasakan
aku melewati hidup di lingkaran ingkar yang ingar
mengais nelangsa yang selalu saja kuhela
hanya menyungging senyum di bibir saat tertampar khianat
siapa yang tahu yang ada di hatiku, yang terselip ratap.
perih. seperti diukir seribu sembilu
dan itu yang kurasakan, bukan yang kau pikirkan
sungguh melelahkan berdansa dengan pusaran
harus mengobral sabar yang mesti terus dikulak
acuh, tak peduli matahari berganti bulan
atau bumi luluh lantak
detikku berhenti, seolah
ibarat menelan sebuah titik.

