Posts tagged with “hujan”

roh hujan

Saturday, 10 April, 2010

hujan telah meninggalkan rohnya
dingin, basah udara yg menerpa
menyingkap angan yg tersimpan
lalu lalang, pamer gambar di balik kepala

hujan telah melepas rohnya
menyesap di tanah, menggelap di sana
dan sepertinya telah tersusun cerita
di tiap tetes yg terdampar, di dahan basah

ada rinai yg tertinggal
ada mimpi yg terpenggal
di tengah jeda hujan

[jari menari begitu saja] ketika hujan

Saturday, 24 October, 2009

pernahkah kau mendengarkan nyanyian hujan?
menyela, menelisip jauh ke sudut hati
mengalun batin untuk ikut menembang
dan tak ada nada lain

pernahkah kau membelai rinai hujan?
merasai titiknya yang jatuh
lirih liris meresap ke pori
merencah, menyelimuti

pernahkah kau menari dengan hujan?
bergandeng, rentak menandak
berputar, mengayun
dan memeluk dirinya erat

pernahkah kau menyatu dengan hujan?
membawa kerinduannya di dalam setiap detak detik.

hujan

Wednesday, 30 September, 2009

Titik air di tanah
mencuci rereget yg mengerak
mengalir beriring menyiang lekuk
menggelapkan warna
namun menyuci

Air tumpah meruah
layaknya berteriak marah
menampar wajah bumi
runcing anak panah
dosa mementah

Air menghujan adalah sunyi
tak terdengar bisik lain
tak juga bercakap
hanya satu nyanyian
hanya satu nada terselip
damai.

hati membadai

Thursday, 28 May, 2009

hati membadai, membaca sajak hujan.
meniti rinai yang semakin abstrak
jatuh di telapak kelopak melati
yang menggeliat dicumbu angin
daun ketapang kering jatuh luruh
luruh bersama tetes air yang memburai
dari perut langit, yang memekik.
terkenang di sudut benak

hati membadai, teringat rindu
menunggumu di beranda depan
di salah satu sisi semadi
yang telah mulai terlupa.
hanya ingatan tentang tetesan
pucuk air di pucuk daun,
tentang keping batu yang tersusun
menghitam, tergambar basah
di bawah tapak-tapak langkah
yang menyusun hari-hari

hati membadai, lukisan-lukisan tua
memaksa datang, menelikung dari balik sunyi
seolah ketitir berdendang asmarandana
memenuhi loka dengan nada-nada
bagai cenderasa yang menghujam, menikam
di atas kayu coklat tua, jiwa terlena
o, kapankah datang lagi tembang itu ?
biar mengisi ruang, yang kini mulai kosong
yang bersusah menepis getir,
menelan rindu yang semakin pahit

:di beranda itu, aku ingin menunggumu, lagi

menunggu hujan reda

Monday, 25 May, 2009

titik air menari
di trotoar yang tak rata
ada gradasi abu-abu entah di langit
selayak tabir, yang menghalang mata
begitu pelit dia menunjukkan birunya,
saat ini

lenggok, alir air
tak menentu, mengisi celah-celah
tak tahu tujuan, hanya mengalir
mengikuti kodratnya

kali ini suara rinai
tak pongah sendiri
ada berisik kehidupan
yang lain, seolah tak mau kalah
hingar bersaput peluh
yang tersamar di selimut hujan

titiktitik masih menitik
di genang air, yang terjebak cekung
berlompatan, layaknya balerina meniti irama

rasanya masih betah di sini,
bercengkerama dengan tempias
sepertinya, hujanpun masih betah
membasahi bumi, menenangkan

nyanyian hujan

Monday, 12 January, 2009

hujan deras, air terhempas
mencipta tombak bening
menghujam bumi

batin basah, oleh tempias
beterbangan menunggang angin
menyatukan rasa yang bias

rintik air adalah melodi
yang menyadarkan
bahwa aku tak sendiri

hujan, adalah lembar diari
tempat menuliskan pikir
yang tak ingin kubagi

hujan, adalah sahabat
saat meledakkan benak
yang serasa tak tertampung

hujan, adalah bilik lelahku
tempat mengurai yang teramat
membuang rasa, merebah jiwa

nyanyian hujan, membuatku beku merindu

pagi dan hujan

Monday, 24 November, 2008

pagi dan hujan
bukan suatu jalinan yang kuinginkan
saat melihat romansa di pinggir jalan
sepasang kekasih berpeluk berpayung
dengan sesungging senyuman

pagi dan hujan
menyembunyikan kehangatan
yang dinanti rumput dan tanah yang kedinginan
atau juga pejalan di sepanjang trotoar
saat kulihat harap singgah
di sosok tua di pinggir jembatan

pagi dan hujan
mendekap dalam keramaian celoteh
saat bersapa dengan aspal jalanan
teringat cerita tentang perigi
yang kembali terisi

pagi dan hujan
terus memeluk sepanjang jalan
menghangatkan hatiku dengan ulahnya

serenade hujan

Sunday, 2 November, 2008

rindu menelikung, di sela hujan
menggoda untuk tetap tinggal
menuntaskan cerita yang telah usang
tentang asa yang mesti hilang

terarak waktu sudah berlalu
selalu meneguhkan janji hati
kau di kejauhan dan aku menjauh
tak beda, rasa ku masih sama

malam, sunyi, hujan, rindu
harusnya menjadi sebuah serenade
yang menghiasi kesendirianku
untuk menganyam lamunan

sepi menelikung, berteman hujan
mencipta rasa yang tak akan hilang
aku akan menjauh
hatiku tetap utuh

sajak hujan

Sunday, 12 October, 2008

rinai hujan masih terdengar

seperti nyanyian jiwa yang sepi

menjatuhkan satu satu manik air

satu tetes di daun itu

satu lagi di ujung atap

masih setia dengan irama yang sama

komposisi alam tanpa birama

awal hari belum mulai

masih setia dia dengan nyanyiannya

membekap keinginan untuk berimaji

untuk bebaskan jiwa yang nelangsa

oh hujan,

andai engkau tahu maksudku

sekedar memeluk lembayung di ujung horizon tadi sore

untuk kujadikan teman minum teh di serambi mimpi

oh hujan,

akankah engkau menemaniku

menghabiskan sisa waktu

sampai jingga menjemput di ufuk timur