jingga sore telah memekat, kekasih
menjadi temanku menunggu.
menunggu waktu,
menanti kau akan jual nyawaku.
berdoa saja,
andaikan, pada saat itu
masih utuh dia, tak terberai.
:semili demi semili
kelupas muka terkuliti
hingga tak ada lagi tempat
buat sekedar menulis setitik sipu.
:merepih hati terserpih
membuat tanya,
adakah bidang buat melukis
walau hanya segaris cinta di sana?
pekat malam mulai mencekat, kekasih
menjadi kerai di setiap angan.
ah, bila saja bisa kusembunyi di sana,
sambil menyemai luka yang kini telah menjadi nyawa.
tahukah?
saat ini, aku tak lagi perlu
berteriak pada setan, untuk bisa berbincang
cukup bisikan.
itupun rasanya sudah terlalu nyaring.
tahukah kau, mengapa?
karena aku telah di neraka!

