aku pamit,
kini hatiku akan pergi
jauh, terlalu jauh untuk menempuh jalan kembali
mungkin dia akan merasa sepi
pasti dia akan sendiri
tapi tak apa.
aku pamit,
mungkin memang kita harus berpisah.
maaf…
aku pamit,
kini hatiku akan pergi
jauh, terlalu jauh untuk menempuh jalan kembali
mungkin dia akan merasa sepi
pasti dia akan sendiri
tapi tak apa.
aku pamit,
mungkin memang kita harus berpisah.
maaf…
berangan memetik manik hujan
tangkupkan dua tangan dan tengadah
masih tampak warna jingga
sisa terang di ujung langit
seperti goresan lukisan dewa
yang menoreh warna dengan angkuh
bermimpi menghirup wangi dupa
di tengah tak tentu yang hilang arah
seperti sulur-sulur melati yang merambat
di samping gazebo malaikat
tempat mereka berdiam khidmat
sederetan kisah telah mulai usang
penggalan-penggalan waktu lewat
pun sajak yang tak lagi puitis
: telah kehilangan makna
[r]
menyusur sepanjang jalan
seperti menyusur sepanjang angan
saat keheningan di sana
kesunyian pula di pikirku
saat ada umpatan di sana
makian pula di hatiku
aku berharap bertemu
seseorang yang sedang merapal ayat
ingin kutahu, apakah jiwaku juga ?
menyusur sepanjang jalan
tak membuatku menyatu dengannya
yang diam terbaring dengan takdir
yang beku terdiam dengan pasrah
yang berkawan dengan debu !
menyusur sepanjang jalan
menghitung jejak yang terlangkah
mengabaikan detik yang terjamah
meretas jalan hingga kaki lelah
apa kabar hari ini, Tuhan ?
kuharap Engkau masih tersenyum
dan menunda waktu kiamat
sekedar memberiku kesempatan
untuk berdoa lebih banyak
dan membuktikan kesungguhan
saat ini,
kabarku di bumi baik-baik saja
masih menapaki jalan dan takdir
berbekal segenggam janjiku dan janjiMu
: tertulis itu di nadi
hari ini, aku masih berdoa yang sama
semoga Kau masih mau menambahkan
dan menulis di buku nasibku, kata bahagia
dan menyisihkan sedikit ruang di rumahMu
apa kabarMu, Tuhan ?
hari ini, kumulai dengan sebatang rokok dan secangkir kopi
dan senandung di tengah pelukan kabut yang Kau kirim
dinginnya sungguh menentramkan, terima kasih
itu akan menjadi lukisan terindah sepanjang hari
menjadi kenangan di balik senyuman matahari
kubebaskan mata nun kesana
kutadahkan tangan, bentang langit
kelipan bintang ataupun kelam
kuasa-MU
aku, masih memandang
titik-titik makna di beranda
tulis setiap kata dan arti
seperti ajaran para nabi
pada kutipan kitab
dan aku masih bersujud hati, di kiblat-MU
tetesan airmata, lafal doa masih setia
aku tiada
masih kucari
di tepian langit
di antara hitam
di antara bintang
biarkan malam menjadi selimut
rebahkan tubuh dan sejenak pikir
tempat tinggal mimpi-mimpiku
apakah matahari akan menjadi pelita ?
atau bulankah ?
dingin masih tetap
dalam pelukan senyapnya
seperti Ursa yang tak pernah hilang
[r]
saat benak mulai menuntut untuk rebah
sejenak di pembaringan yang tercarut
kaki enggan untuk sekedar melangkah
terkunci rapat di dekat dipan di ujung kamar itu
benakku masih terpatri
pada kenangan-kenangan
yang aku ragu akan kembali
apakah aku harus mulai berbaring
dan menguapkan semua angan atau inginku ?
apakah aku harus mengajar kakiku
untuk mulai berjalan lagi ?
apakah mulutku harus terus
melafalkan doa yang entah kapan terjawab ?
apakah aku harus, apakah aku harus ?
kebingungan ini mengingatkanku
untuk membujuk benakku memohon
ketika mulut telah mulai pahit kehabisan ludah
dan bibir telah kering tersapu angin
aku telah lelah untuk sekedar berbaring
di kasur yang tercarut di pojok kamar itu
……….saat kakiku ingin melangkah
[r]
dingin tajam menghujam
menyeruak sisi gelap
hitam pekat menyekat
dada terbekap
lingkar hari bertaut
menelikung dendam
geram masa silam
kembali terulang
membumbung kesumat
mendera nurani
ingin melantakkanmu
di telapak kaki
kilat lenyap
pekat menghebat
dingin luluhkan nadi
sepi mendera utuh
enyah !!!
tak layak kau di sini !!!
……………………
: masih tersisa,
secuil ingatan tentangMU
raga
sampai kapankah kau tanggung dunia ?
terseok di balik amal dan dosa
merajah bumi dengan bayanganmu
yang kerap timbul dan tenggelam
dan terbekap di lorong masa
raga
kuatkah kau sangga semua ?
meretas waktu, tertitik renta
berkelana lalui titian marka
hingga kau jingkatkan kaki takut terluka
raga
masihkah kau nikmati semburat warna jingga ?
di batas hari di batas cakrawala
sangu dirimu menanti malam
lepaskan penat menyapa maya
raga
kemarilah, mendekat
rebahkan dirimu di petiduran
berdua, kita berbincang tentang esok
akhirnya kutoreh dalam
dada dengan belati
kuambil hati
pada kerumunan
yang menatap ragu
mereka mulai mendekat
lihat seksama !
tak ada hitam
terhuyung kucoba tegak
tetap memegang hati
aku terdiam puas dengan hati tergenggam
apakah aku harus membuat
puisi tentang malam ?
ataukah aku akan membuat
puisi tentang sepi ?
tidak
karena meraka telah menjadikanku
sebuah puisi