Saturday, 17 April, 2010
masih hujan
masih mendung
titiktitik air menyusur
menyusur alur di tanah lengkung
berkejaran bergegas pergi
masih mendung
masih gelap
awanawan memayung
menutup matahari, tutup rembulan
tak jelas siang atau malam
bergelut dengan dunia sungguh melelahkan
andai boleh memilih
lebih baik bersembunyi di alam ruh
melarut dalam drama sungguh melelahkan
seperti topeng yang selalu terpakai
menyekat wajah, pengap
dan percayalah, hati aus karenanya
tak bisa merasa, mati rasa
entah telah masuk babak berapa
entah telah ikut episode apa
hanya menyusur alur di setiap telikung
entah, semacam menikmati sajak-sajak membosankan.
Monday, 8 June, 2009
kubiarkan rindu ini mengikis
berbilang waktu telah berlalu
membiarkan rasa itu terjebak
menyiksa, di balik terali hati
menikmati rindu,
seperti merasakan kabut pagi
menyentuh, namun tak tersentuh
apakah aku harus melepasmu ?
hingga hanya akan hadir
dalam bingkai mimpi
tanpa bisa kumiliki
apakah aku harus melupakanmu ?
seperti sekedar sekelebat bayangan
yang bahkan tak berarti
walau untuk setitik memori
menikmati rindu,
seperti menikmati terbenamnya mentari
indah, sesaat, kemudian sepi
mungkin, aku harus melepasmu
Wednesday, 8 April, 2009
selembar daun waru,
apalah artinya ?
manik embun dan,
titik debu tak juga membuatnya beda
tetap akan tersurat sama, terbaca sama
gurat daun tak tersirat, jelas
tiuplah, selayak angin membelai helai
terkuak gurat-gurat
seperti lembaran kitab yang tak bersekat
hembuslah, selayak angin mengayun
dia akan menari mengikut takdir
mengarung waktu, kemudian
menjadi coklat dan kering,
apalah artinya ?
daun waru kering terserak,
di tanah coklat
dia telah mati, dilupakan
Friday, 27 March, 2009
beranjak gelap,
membawa nyanyian senyap
bermantramantra di usai matahari
terbawa, dari puncak langit
menjuntai ke bumi, di garis cakrawala
berbinar sesaat, kemudian lenyap
meninggalkan lamunan
pada sang penyajak
menanti pecahnya janji
oleh retak mulut
yang bergumam, katakata
makna menyepuh kata
kemudian, hati yang mengulang
setiap saat, setiap saat
setiap hela, nafas tanpa jeda
melupa
membeku, terbayang waktu
ini, bukanlah penggalan terakhir
masih banyak detik tak terhitung
dan sisa di atas batas
bukan sekedar sekelebat, lewat
dan, tak hanya angan-angan pengantar tidur
tapi tetap saja, diri menepis alun
abai akan larik, yang liris berbisik
semakin meneguh ingkar, mengakar
Monday, 23 March, 2009
retaklah malam, menelusup
singkirkan hingar bingar.
saatnya sunyi.
harum tanah, basah
serpihan-serpihan berserak
melayang, melayang
pahit berputaran, berpusar liar
menjemput getir
ingin teriak membelah langit
menikam bulan
memburai pekat
masih berkudung murka, merajalela
hati, hampir pecah terlindas
luluhlantakkan setiap sendi,
setiap otot, setiap pori
menatap mata yang tak dikenal, nyalang
merasakan panas nafas, mendengus
menggetar !
uh, tercium bau neraka !
setitik, sampai batas.
terhempas tubuh di peraduan
menyekat angkara,
bersepisepi
membekap nafsu,
mematri
aku rindu hujan,
aku rindu kesunyian.
kemana harus mengasing ?
sesuatu, menghujam, membekas perih
entah dimana, entah
Saturday, 31 January, 2009
de,
kutapaki satu satu lantai, dengan mata
mencampurnya dengan kepulan asap di ujung jari
berbaur, mencipta abstrak indah
layaknya lukisan dengan komposisi aneh
berputar berpilin seperti pikiranku
yang semakin menggila berangan
menuntaskan semua dalam khayal.
kuberalih dari petak ke petak
tapi aku merasa masih di situ
garis-garis itu masih sama
tak berpindah tempat
tak bergerak
de,
hatiku teriris melihat senyum dan bening mata
aku seolah terbenam !
hatiku tercekam
bila saja ada yang bisa diulang
mestinya akan ada bagian yang kubuang
biar bisa kubuat kelok lekuk itu lebih indah
setidaknya, aku bisa melihatnya sambil tertawa
atau kusyuk berdoa, tak hanya sekedar merapal kata hampa
dan tidak menatap petak-petak keramik ini, dengan kebingungan
Wednesday, 28 January, 2009
kadang aku ingin waktu lambat berjalan
agar aku bisa menikmati semua
rasa yang tidak berujung
melihat kegelisahan orang-orang
yang hilir mudik menggapai kehidupan
dan aku ada di dalamnya
bersama merasakan kegelisahan itu
kadang aku ingin jam berhenti berdetak
biar kebahagiaan tidak cepat usai
seperti yang kurasakan kemarin
agar bisa kusimpan seluruh lukisan
kisah bersama orang-orang
yang kukenal dan yang tak kukenal
kadang aku ingin detik berlalu, lebih cepat
biar bisa kurasakan kepedihan ini
berlalu dengan ligat
sambil menikmati bahagia yang masih tersisa
bersama orang-orang yang kukenal dan yang tak kukenal
dan mengabarkan pada mereka
bahwa kepedihan ini akan cepat pergi
seiring bumi yang berputar
kadang aku ingin matahari terbit di barat
biar bisa kuulang semua sejarah
biar dapat kuhapus semua salah , yang sudah kubuat
biar bisa kulihat kembali sapaan dan senyuman
dari orang-orang yang kukenal dan tidak kukenal
agar bisa kulihat lagi kebahagian segelintir manusia, juga aku
kadang aku ingin merasakan
kepedihan dan kebahagiaan pada waktu yang sama
agar tak bisa lagi merasa, biar perasaan ini hampa
Tuesday, 20 January, 2009
seperti ranting kering, di sepokok pohon kering
di padang rumput gersang tandus berdebu berbatu
alunan angin, malah membuatnya meranggas
tak setitik airpun enggan mampir, di daunnya
yang menghitam, mengering
sesosok lelaki berlindung,
di balik bayangannya, yang ternyata panas
telapak kakinya terbakar tanah tandus yang membara
kepalanya mendidih, terpanggang panas matahari
berkeringatlah dia, menetes, di kepala, di dada, dan di matanya
diseka, dengan ujung baju yang nyaris tak berwarna
menunggu terik pergi, adalah sungguh membosankan
apalagi, dicaci oleh langunya tubuh yang telah hilang hati
terik yang ditentang, kemudian menghilang
pohon masih mengeluh, daunnya tak tumbuh
rantingnya malah semakin mengering
pokoknya mengeras, tertular tandus tanah
tubuh lelaki itupun membeku
keringatnya membeku, air matanya membeku
lidahnya kelu, hatinya kelu
tersapu angin kering menggigilkan nadi
ah, namun matanya masih membara
sepertinya garang matahari masih tersisa,
terjebak di balik kepalanya
Sunday, 18 January, 2009
aku milik malam, kelam
seperti pekat di tengah kegelapan
memburai perut terang
ke dalam keping-keping
tak berbentuk
tak bersahabat, bahkan pada celoteh
celoteh bintang
aku adalah senyap
di sepanjang lorong ramai
di tengah pesta dan kegembiraan
menceraiberaikan suara sorak
yang bersipongang
tak bersahabat, bahkan pada bisikan
bisikan angin
aku adalah pengelana
beku menyatu dengan jalan
diam membisu berkawan cacian
menari di sepanjang lintasan loka
acuhkan teja di cakrawala
sendiri, meretas hari
aku,
aku adalah kepingan
yang tak kunjung utuh
yang tak kunjung utuh
yang tak kunjung utuh
Thursday, 15 January, 2009
berangan memetik manik hujan
tangkupkan dua tangan dan tengadah
masih tampak warna jingga
sisa terang di ujung langit
seperti goresan lukisan dewa
yang menoreh warna dengan angkuh
bermimpi menghirup wangi dupa
di tengah tak tentu yang hilang arah
seperti sulur-sulur melati yang merambat
di samping gazebo malaikat
tempat mereka berdiam khidmat
sederetan kisah telah mulai usang
penggalan-penggalan waktu lewat
pun sajak yang tak lagi puitis
: telah kehilangan makna
[r]